Selasa, 26 September 2017

Maruarar: Presiden Jokowi persatukan bangsa

| 3.207 Views
Maruarar: Presiden Jokowi persatukan bangsa
HUT RI Di Istana Merdeka Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kiri) beserta istri Ani Yudhoyono (kiri), mantan Presiden BJ Habibie (keempat kiri), mantan Presiden Megawati Soekarnoputri (ketiga kanan), Ketua MPR Zulkifli Hasan (kanan) beserta istri bersiap mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017). Peringatan HUT ke-72 RI mengusung tema Indonesia Kerja Bersama. (ANTARA/Puspa Perwitasari) ()
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih Marurar Sirait mengatakan Presiden Joko Widodo berhasil mempersatukan bangsa dengan kehadiran sejumlah presiden terdahulu pada peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia.

"Pertemuan presiden, wakil presiden, dan juga mantan presiden menjadi contoh yang baik yang ditunjukkan oleh para pemimpin negeri ini dan mereka merupakan negarawan sejati," kata Maruarar di Jakarta, Jumat.

Sejumlah mantan presiden yakni BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI di Istana Negara, 17 Agustus.

Turut pula hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pemandangan tersebut, terbilang langka karena biasanya ada mantan presiden yang berhalangan hadir.

Marurar sirait menyambut baik dan senang kepada para pemimpin yang bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat Indonesia.

"Presiden Jokowi mampu menjunjung tinggi dan memberi teladan serta contoh positif dan bisa membedakan kapan waktunya berkompetisi dan tidak," kata tokoh muda yang kerap menyuarakan keberagaman itu.

Menurut dia, hal itu menjadi contoh baik untuk bangsa. Ke depan, dia berharap bisa menjadi contoh bagi para politisi serta dapat menginsprasi.

Dia juga berharap rakyat Indonesia tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut dia, perbedaan itu wajar dalam kehidupan ini, oleh karenanya belajar saling menghargai. Ada waktunya saling bersaing namun ada waktunya tersenyum, bersatu dan saling memaafkan.

Indonesia, katanya bukan milik satu orang, satu kelompok, satu partai, satu agama maupun satu etnis tapi Indonesia adalah milik kita bersama.

Dia juga mengajak segenap anak bangsa menciptakan suasana harmonis dalam berbangsa dan bernegara yang tentunya berdasarkan Pancasila.

(T.I025/N002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga