counter

Mantan menteri soroti tantangan penyediaan perumahan bagi millenial

Mantan menteri soroti tantangan penyediaan perumahan bagi millenial

Dokumentasi foto - Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP) Dr (HC) Ir Siswono Yudo Husodo. (Megapolitan.antaranews.com/Foto: Feru Lantara)

kecenderungan millenial untuk menunda menikah membuat kebutuhan perumahan menjadi berbeda dengan yang terjadi pada masa lalu.
Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudo Husodo menyoroti tantangan penyediaan perumahan bagi kaum millenial yang saat ini dihadapi pemerintah.

Dalam sarasehan dan peluncuran Buku Sejarah Perumahan dan Kamus Istilah Perumahan di Jakarta, Senin, Siswono menyebutkan kecenderungan millenial untuk menunda menikah membuat kebutuhan perumahan menjadi berbeda dengan yang terjadi pada masa lalu.

"Millenial cenderung menunda pernikahan. Zaman saya, perempuan umur 18 sudah menikah, sekarang 25-26 tahun baru menikah. Menunda menikah berarti menunda kebutuhan akan perumahan," ungkapnya.

Siswono menambahkan, fungsi rumah bagi kaum millenial dan masyarakat di masa lalu juga mengalami perubahan.

Misalnya, masyarakat di masa lalu menganggap fungsi rumah sebagai status sosial dan investasi. Namun kini millenial melihat rumah dari sisi fungsional.

Baca juga: Pemerintah diminta tetapkan standarisasi bahan bangunan

"Yang laku adalah rumah yang kecil. Pengantin baru malah ingin yang kecil kamar satu, lebih ekstrem lagi ada yang tidak kepikiran punya rumah, yang penting fungsional. Itu sebabnya laku pesat kos-kosan. Saya melihat ada kecenderungan perubahan soal arti rumah ini," imbuhnya.

Menteri Perumahan Rakyat periode 1988-1993 itu menuturkan, meski terjadi perubahan pola konsumsi perumahan, masih ada beberapa hal yang tidak berubah sejak dulu hingga saat ini.

Yang utama, yakni kenaikan harga tanah yang lebih tinggi dari pendapatan masyarakat serta biaya pembangunan rumah yang terus meningkat lebih tinggi dari inflasi.

"Menurut rekan saya, hari ini membangun rumah sederhana itu mencapai Rp1,8 juta per m2, 10 tahun lalu kita masih bisa membangun dengan Rp1,1 juta per m2. Naiknya harga ini membuat keterjangkauan rakyat untuk bisa memiliki rumah masih tetap ada dulu maupun sekarang," jelasnya.

Baca juga: Menteri Basuki: penyediaan perumahan tidak gampang

Oleh karena itu, ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi mendukung penyediaan perumahan yang terbaik untuk rakyat.

Siswono yang mengaku telah berusia 76 tahun itu menambahkan, meski masalah yang dihadapi masih sama sejak ia menjabat 31 tahun lalu, ia mengapresiasi langkah pemerintah saat ini.

"Saya ini sudah melihat tujuh presiden, belum pernah ada pemerintahan yang memberikan perhatian terhadap infrastruktur dan permukiman setinggi (pemerintahan) sekarang," pungkasnya.

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar