Tim sar gabungan selidiki tumpahan minyak di perairan Obi

Tim sar gabungan selidiki tumpahan minyak di perairan Obi

Pencarian kapal kargo MV Nur Allya oleh tim SAR gabungan dengan menggunakan pesawat Susi Air dari perairan Buru hingga perairan Maluku Utara dan Halmahera belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan juga menggunakan KN SAR 237 Pandudewanata hari ini difokuskan ke pesisir Desa Gamburu (Pulu Obi) untuk mengecek laporan tumpahan minyak. (29/8) (Foto : Antara/Daniel Leonard).

Sehingga operasi pencarian dimulai pagi ini dengan tujuan menuju pesisir Desa Gamburu,
Ambon (ANTARA) - Tim SAR gabungan yang sementara mencari kapal kargo MV Nur Allya di perairan Buru hingga perairan laut Maluku Utara mulai fokus untuk menyelidiki adanya laporan tumpahan minyak di sekitar perairan Pulau Obi, Provinsi Maluku Utara.

"Pagi ini tim SAR gabungan dari Ambon dan Ternate, mulai memantau adanya laporan tumpahan minyak di pesisir Desa Gambaru dan selanjutnya melanjutkan pengecekan Life Craft di Desa Fluk," kata Kepala Kantor Basarnas Ambon, Muslimin di Ambon, Jumat.

Menurut dia, pada tanggal 29 Agustus 2019 pukul 22:35 WIT, pihaknya menerima informasi dari Nahkoda KN. SAR 237 Pandudewanata bahwa kapal tersebut tiba dan sandar di Dermaga Desa Wayaloar, Kepulauan Obi.

Baca juga: Pertamina terus mendata warga terdampak tumpahan minyak Karawang

Selanjutnya tim SAR gabungan melaksanakan koordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait adanya tumpahan minyak di pesisir Desa Gambaru sehingga tim melanjutkan pengecekan Life Craft di Desa Fluk.

Kemudian sekitar pukul 23:15 WIT KN. SAR 237 Pandudewanata keluar berlindung ke Pulau Gamumu Obi dikarenakan cuaca di perairan Desa Wayaloar tidak memungkinkan.

Sehingga operasi pencarian dimulai pagi ini dengan tujuan menuju pesisir Desa Gamburu guna mengecek tumpahan minyak yang dilaporkan.

Tim SAR gabungan yang terlibat didalamnya adalah Basarnas Ternate, Basarnas Ambon, Ditpolairud Polda Maluku Utarat, Lanal Ternate, Pos AL Bacan, SROP Ternate, KSOP Ternate, KSOP Ambon, KUPP Labuha, Bakamla RI, Kodim 1509 Labuha, Polsek Obi Selatan, UPTD BPPP wilayah V Panambuang, PT. Gurita Lintas samudera, PT. Matthew Daniel International, Asuransi P n I Club, serta Asuransi H & M.

Baca juga: Legislator: upaya penghentian tumpahan minyak Pertamina sudah tepat

Sedangkan sarana transportasi yang digunakan tim SAR gabungan adalah KN. SAR 237 Pandudewanata Ternate, KN. Ular Laut 405 Bakamla RI, serta pesawat udara Susi Air.

Muslimin menjelaskan, hasil monitoring hari ke tujuh terhadap Distress Alert dari MV Nur Allya pada koordinat 01°18'48.00"S / 128°38'24.00"T di perairan laut Halmahera pada Kamis, (29/8) masih dikatakan nihil.

Tim SAR gabungan menggunakan KN. Ular Laut 405 Bakamla melakukan pencarian pada tanggal 29 Agustus 2019 sejak pukul 08:00 WIT di sebelah Timur Laut Pulau Buru (Maluku) hingga Utara Pulau Buru namun belum membuahkan hasil.

Selanjutnya pada pukul 13:54 WIT, tim SAR gabungan dengan menggunakan pesawat udara Susi Air berangkat dari Bandara Pattimura Ambon untuk melakukan pemantauan dari udara dengan rute Pulau Obi, Pulau Wooi, Pulau Senepe, Sanana dan kembali ke Ambon.

Namun pencarian kapal kargo pengangkut nikel bersama 25 penumpang dari Pulau Halmahera menuju Sulawesi Tenggara melalui udara ini tidak berhasil dan tim juga tidak melihat tanda-tanda adanya tumpahan minyak di sekitar pesisir Desa Gamburu (Pulau Obi).

Baca juga: Ratusan TNI/Polri masih bantu bersihkan tumpahan minyak di Karawang
 

Pewarta: Daniel Leonard
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina: tumpahan minyak di Karawang tinggal 10%

Komentar