Pertamina EP terapkan metode polymer untuk capai target produksi

Pertamina EP terapkan metode polymer untuk capai target produksi

Ilustrasi: Pekerja berjalan menuruni tangga Loading Terminal Pertamina EP, Field Bunyu, Kalimantan Timur. (ANTARA/Rosa Panggabean)

Pertamina EP telah memulai implementasi chemical EOR berupa polymer di Lapangan Tanjung pada Desember 2018 setelah melakukan kajian pada 2016 dengan bantuan pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung.
Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) sekaligus Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah SKK Migas, menerapkan metode EOR atau Enhanced Oil Recovery dengan implementasi chemical EOR berupa polymer.untuk mendukung pencapaian target produksi.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf dalam ajang The 43rd IPA (Indonesian Petroleum Association) Convention and Exhibition di Jakarta Convention Centre, Kamis.

“Pengembangan lapangan minyak akan selalu melalui 3 tahapan yaitu primary, secondary, dan tertiary. Lapangan-lapangan Pertamina EP telah melalui proses primary dan sekarang sedang menuju proses secondary dan tertiary. Dengan minyak tersisa sebesar 8.2 BSTB, implementasi pattern waterflood dan EOR akan mengoptimalkan produksi minyak dan penambahan cadangan.”, terangnya dalam informasi tertulis yang diterima Antara di Jakarta.

Nanang menjelaskan bahwa Pertamina EP telah memulai implementasi chemical EOR berupa polymer di Lapangan Tanjung pada Desember 2018 setelah melakukan kajian pada 2016 dengan bantuan pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung.

Injeksi polymer merupakan teknologi yang telah terbukti dan telah diimplementasikan lebih dari 30 tahun di berbagai lapangan minyak di dunia dengan rata-rata peningkatan Recovery Factor (RF) sebesar 5-10 persen terhadap OOIP.

Baca juga: Pertamina kelola 40 persen produksi migas nasional

“Pertamina EP sangat optimis melakukan waterflood dan EOR. Berdasarkan perkiraan produksi, produksi kumulatif minyak diharapkan sebesar 245 MMSTB melalui waterflood dengan puncak produksi sebesar 60,000 bopd pada  2026 sedangkan tahap tertiary akan menghasilkan produksi kumulatif sebesar 133 MMSTB dengan puncak produksi sebesar 30,000 bopd pada 2030,”jelas Nanang.

Dalam 5 tahun terakhir, ada beberapa lapangan di dunia yang sudah melakukan proyek polymer flooding di antaranya adalah Venezuela (2017), Brazil (2017), dan Suriname (2014-2016). Di Indonesia, terdapat 4 KKKS yang sudah menerapkan chemical EOR yaitu Chevron, Medco, CNOOC, dan Pertamina. Dalam waktu 5 tahun kedepan, Pertamina EP akan melakukan pilot dan full scale chemical EOR di 5 struktur, yaitu Tanjung, Sago, Rantau, Jirak dan Limau, dan CO2 flooding di 3 struktur, yaitu Sukowati, Jatibarang dan Ramba.

Project Tanjung Polymer Field Trial di Lapangan Tanjung ini dimaksudkan untuk meningkatkan produksi Lapangan Tanjung melalui tahap secondary recovery dari optimisasi waterflood serta tertiary recovery dengan teknologi chemical EOR baik dari fase pilot maupun full scale. Adanya optimisasi waterflood diproyeksikan mampu menaikkan recovery factor lapangan Tanjung dari 24,05 persen menjadi 27,25 persen pada 2035.

Untuk injeksi polimer di Pattern 12 Lapangan Tanjung diharapkan diperoleh oil gain sampai dengan 45 MSTB pada 2021 dan penurunan water cut sumur-sumur monitor sebesar 5 persen. Desain injeksi dibuat dengan kebutuhan polymer sebanyak 70 ton, volume larutan polymer yang diinjeksikan adalah 200 ribu barrel dengan konsentrasi 2000 ppm dan laju injeksi sebesar 1000 barrel per hari.

Tanjung Field dipilih dengan menggunakan polymer karena karakter low recovery faktor dan high level dari cadangan heterogen. Saat ini Tanjung Polymer Field Trial telah memasuki fase ketiga. “Diharapkan dengan Polymer ini , dalam jangka waktu dua tahun akan dapat diperoleh penambahan minyak sebesar 45.000 BOPD”, harap Nanang.

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar