counter

Aksi protes di Hong Kong akan diwarnai perayaan lentera

Aksi protes di Hong Kong akan diwarnai perayaan lentera

Ilustrasi: sejumlah pengunjung menerbangkan lampion pada Festival Lampion di pelataran Candi Borobudur. (Foto: Wisnu Adhi)

Hong Kong (ANTARA) - Para pegiat Hong Kong akan menggabungkan protes antipemerintah dengan perayaan lentera, yang menandai Festival Pertengahan Musim Gugur, pada akhir pekan ini.

Aksi tersebut akan dilangsungkan setelah rangkaian demonstrasi, yang kadang-kala rusuh di kota itu, diselingi jeda singkat.

Protes meliputi satu lagi rangkaian "tes tekanan" pada bandar udara. Dalam beberapa pekan belakangan ini,  aksi protes diwarnai dengan penutupan jalan, pembakaran di jalan serta pembuangan sampah di satu stasiun kereta bawah tanah MTR, yang berdekatan. 

Pemrotes juga mengakibatkan terminal kedatangan ditutup bulan lalu, sehingga berujung pada pembatalan atau penundaan penerbangan, dan mereka terlibat bentrokan dengan polisi.

Baca juga: Pemrotes bergerombol di bandara Hong Kong untuk kacaukan perjalanan

Festival Pertengahan Musim Gugur adalah perayaan panen di seluruh dunia yang berbahasa China dan di Asia Timur serta Tenggara.
Festival, yang tahun ini jatuh pada Jumat, tersebut dirayakan dengan kue bulan, memandang bulan purnama dan pertunjukan lentera warna-warni.
 
Murid-murid sekolah menengah pertama berpegangan tangan membentuk rantai manusia di Hong Kong, China, Kamis (12/9/2019).  ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmetha/TM  

Pemrotes merencanakan serangkaian rantai manusia --sambil membawa lentera-- dan aksi duduk di pusat pertokoan MTR dan di Victoria Peak, yang indah di kota tersebut, serta di Lion Rock, yang memisahkan kawasan New Territories dari semenanjung Kowloon.

 Victoria Peack terkenal di kalangan kelompok wisatawan China Daratan.

Di pertokoan IFC, menara pencakar terkenal di daerah reklamasi baru Central, sempat terjadi baku-hantam, saling dorong dan insiden menjambak rambut, antara pendukung antipemerintah Hong Kong dan pro-Beijing. Sebagian toko papan atas ditutup. 

Baca juga: Polisi Hong Kong perketat pemeriksaan ke bandara cegah kekerasan malam
 
Polisi menolak permohonan Front Hak Asasi Manusia Sipil (CHRF) untuk mendapatkan izin menggelar pawai massal di pusat kota pada Minggu. 

Polisi telah menanggapi kerusuhan dengan menembakkan gas air mata, semprotan lada, peluru karet, semprotan air dan memukulkan pentungan. Tindakan tersebut menyulut keluhan mengenai penggunaan kekuatan secara berlebihan.

China telah mengatakan Hong Kong sekarang adalah urusan dalam negeri. Inggris menyatakan London memiliki tanggung jawab hukum untuk memastikan China mematuhi kewajibannya berdasarkan Deklarasi Bersama.

Hong Kong dikembalikan kepada China pada 1997 berdasarkan formula "satu negara, dua sistem". Formula tersebut menjamin kebebasan yang tidak dinikmati oleh warga di China Daratan, termasuk sistem peradilan yang mandiri.

Sumber: Reuters

Baca juga: Pengunjuk rasa Hong Kong minta Trump "bebaskan" kota

Baca juga: Menlu pastikan tak ada WNI terdampak langsung unjuk rasa di Hong Kong

 

2.016 Lampion Hiasi Langit Borobudur

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar