counter

Artikel

Jambi angkat tekuluk hingga ke ajang Kriyanusa 2019

Oleh Syarif Abdullah dan Dodi Saputra

Jambi angkat tekuluk hingga ke ajang Kriyanusa 2019

Fashion show Tekuluk Jambi di pameran Kriyanusa 2019 di Jakarta, Kamis (12/9) (Foto/Humas Prov)

Yang sudah diteliti 98 jenis, terbanyak tersebar pada Suku Batin dan Kerinci
Jambi (ANTARA) - Kain penutup kepala wanita (tekuluk) khas Provinsi Jambi ditampilkan dalam salah satu pameran kerajinan terbesar di Indonesia, Kriyanusa 2019 di Balai Kartini, Jakarta, sejak Kamis (12/9).

Ditampilkannya Tekuluk Jambi dalam pameran nasional tersebut merupakan bagian dari upaya Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi bekerja sama dengan Dekranasda kabupaten/kota se-Provinsi Jambi untuk mempromosikan dan melestarikan Tekuluk Jambi.

Sebelum peragaan aneka ragam Tekuluk Jambi, terlebih dahulu diadakan Workshop Ragam Hias Tekuluk Jambi, dengan tiga orang narasumber, yakni Ketua Dekranasda Provinsi Jambi Hj Rahima Fachrori, Kepala Museum Negeri Jambi dan penulis buku Tekuluk Jambi Nurlaini serta tokoh penggagas Tekuluk Jambi Hj Ratu Munawwaroh yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dekranasda Provinsi Jambi selama dua periode dan saat ini merupakan pengurus Dekranas.

Pada kesempatan tersebut, Rahima mengenakan tekuluk dari Pulau Rengas Kabupaten Merangin.

Rahima menegaskan bahwa Tekuluk Jambi harus terus dilestarikan, artinya pelestarian tekuluk harus berkelanjutan, sebagai upaya untuk melestarikan salah satu khasanah budaya Provinsi Jambi.

Sebab itu Rahima mengajak semua pengurus dan kader Dekranasda Provinsi Jambi dan Dekranasda kabupaten/kota se-Provinsi Jambi untuk bekerjasama melestarikan dan mengembangkan Tekuluk Jambi. "Harapan saya bahkan sampai ke level internasional," ujar Rahima.

Rahima mengapresiasi para pengurus Dekranasda sebelumnya dan para pihak terkait yang telah menggagas mengangkat dan berusaha melestarikan Tekuluk Jambi, sembari menekankan bahwa pelestarian Tekuluk Jambi harus dilakukan secara sinergi dan berkesinambungan.

"Bahkan kita usahakan dalam mengembangkan dengan tetap berdasarkan nilai-nilai budaya Jambi. Dan bukan hanya Tekuluk dan Batik Jambi yang kita lestarikan dan kembangkan, tetapi semua kriya (produk) kerajinan Jambi, terutama yang memiliki kekhasan Jambi," katanya.

Rahima mengatakan dikenakannya Tekuluk pada moment tertentu, seperti saat peringatan HUT Provinsi Jambi dan saat upacara-upacara budaya merupakan bagian dari upaya Dekranasda bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk melestarikan tekuluk. Selain itu pembinaan perajin juga terus dilakukan.

Baca juga: Tekuluk ditetapkan jadi ikon dalam "Promosi Jambi"

Baca juga: Peserta SMN NTT belajar membuat batik Jambi

 
Pameran berbagai tekuluk khas Provinsi Jambi dari masing-masing kabupaten/kota dalam ajang SMEsCO Jambi Tuntas Festival, Minggu (25/11). (Foto/Humas Prov) (Foto/Humas Prov/)



Mengangkat perajin

Ketua Dekranasda Provinsi Jambi ini berharap semakin banyak masyarakat luar Provinsi Jambi yang mengenal dan mengetahui Tekuluk Jambi, termasuk dengan ditampilkannya Tekuluk di Kriyanusa yang ke-4 2019 dan masyarakat Provinsi Jambi semakin mencintai tekuluk sebagai budaya Jambi.

"Dan penghasilan perajin Tekuluk semakin meningkat, perajin Tekuluk semakin sejahtera, serta bisa menambah lapangan kerja," ujarnya.

Tokoh penggagas Tekuluk Jambi, Hj Ratu Munawwaroh menjelaskan menggagas, mengenalkan dan mempromosikan Tekuluk Jambi dengan pemikiran bagaimana mengembalikan produk budaya khas Jambi berdasarkan referensi yang pasti, maka saat menjabat Ketua Dekaransda Provinsi Jambi, dirinya melakukan kunjungan ke daerah-daerah di Jambi dan memperbanyak kunjungan ke museum, termasuk rapat-rapat dilaksanakan di museum, untuk lebih lagi mengenalkan Tekuluk Jambi dan benda-benda budaya Jambi lainnya.

Selain itu, upaya lain yang dilakukan untuk lebih lagi mengenalkan dan mempromosikan Tekuluk Jambi adalah dengan memberlakukan tekuluk sebagai pakaian ASN perempuan pada hari Rabu, dan mengusulkan agar tekuluk dimasukkan dalam Mulok (muatan lokal) pendidikan anak-anak sekolah di Jambi.

Kemudian selain dipromosikan di dalam Provinsi Jambi, juga dipromosikan ke luar Provinsi Jambi, yakni melalui Dekranas pusat dan ditampilkan dalam berbagai kegiatan nasional.

"Respon pengurus Dekranas pusat positif, senang karena unik dan sangat khas. Dengan semakin terangkatnya tekuluk, menimbulkan multiplier effect tidak hanya ke perajin, tetapi juga ke penjahit. Tekuluk Jambi ini warisan budaya yang tidak boleh hilang. Anak muda Jambi juga harus bangga dengan Tekuluk Jambi. Kita harus mengangkat kerajinan melalui kreativitas dan kewirausahaan yang sekaligus mengangkat kearifan lokal," kata Ratu Munawwaroh.

Baca juga: Jokowi belanja batik Jambi dan kain Betawi di Inacraft 2019

Baca juga: Batik Jambi hadir lagi di Indonesian Fashion Week

 
Lomba pemasangan tekuluk di pendopo, halaman kantor gubernur Jambi, Senin (8/1). (Foto Antarajambi.com/ Dodi Saputra)



Tanpa peniti

Kepala Museum Negeri Jambi dan penulis buku Tekuluk Jambi, Nurlaini lebih menekankan pada filosofi yang terkandung dalam Tekuluk Jambi dengan jenis yang berbeda-beda, dan menjelaskan teknis mengenakan Tekuluk.

"Tekuluk Jambi tidak menggunakan peniti, tidak menggunakan jarum pentul, tetapi hanya lipatan dan lipatan itu harus rapi," ujar Nurlaini.

Nurlaini menerangkan jenis-jenis Tekuluk Jambi, yakni tekuluk yang dipakai sehari-hari, dipakai di kantoran, hingga yang dikenakan oleh pemangku adat.

Nurlaini mengungkapkan bahwa Dekranasda se-Provinsi Jambi bekerjasama dengan seluruh pihak terkait telah melakukan kajian dan dokumentasi terhadap Tekuluk Jambi, dan sudah dimuat dalam tiga edisi buku, dengan total 98 jenis Tekuluk Jambi. Dimana dalam edisi satu ada 42 jenis Tekuluk Jambi, edisi dua 30 jenis dan edisi tiga 26 jenis.

"Yang sudah diteliti 98 jenis, terbanyak tersebar pada Suku Batin dan Kerinci," kata Nurlaini. Kalau juntainya sebelah kanan berarti sudah menikah, kalau juntainya sebelah kiri berarti masih gadis. Baju pasangan tekuluk bagi yang sudah menikah lima senti di bawah lutut, bagi yang belum menikah lima senti di atas lutut. Tekuluk bukan hanya dipadukan dengan Batik Jambi tetapi juga dengan Songket Jambi," kata Nurlaini disertai dengan penjelasan maknanya.

Usai talk show, para pengurus Dekranasda Provinsi Jambi dan Bujang Gadis Jambi menampilkan berbagai jenis Tekuluk Jambi di atas panggung Kriyanusa 2019.

Selain itu, Nurlaini mempraktekkan pemasangan tekuluk kepada dua orang pengunjung, yakni Tekuluk Pulau Rengas Kabupaten Merangin kepada Anisa dan Tekuluk Rambahan dari Tebo kepada Ria Angel dari Jakarta.

Persembahan lagu daerah Jambi turut memeriahkan peragaan Tekuluk Jambi. Dekranasda menyediakan Teh Kayu Aro Kerinci yang siap diminum dan beberapa kue khas Jambi diantaranya kue Sagon Bakar yang bisa dinikmati oleh para pengunjung secara gratis yang juga merupakan upaya mempromosikan Provinsi Jambi.*

Baca juga: Menperin apresiasi IKM batik Jambi

Baca juga: Kemenperin fasilitasi batik Jambi pukau Paris

Oleh Syarif Abdullah dan Dodi Saputra
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sudah hampir tiga dekade mereka membuat selop pengantin

Komentar