Jakarta, (ANTARA News) - Maestro Tari Topeng Indramayu, Mimi Rasinah (78) yang menderita sakit stroke selama empat tahun terakhir kembali muncul di atas panggung pementasan Jakarta Anniversary Festival 2008 di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam (20/6). Kehadiran Mimi Rasinah di atas panggung memang bukan untuk menari, namun untuk mendampingi dan menyaksikan anak-anak dan cucunya membawakan Tari Topeng Indramayu. Ia duduk di atas kursi roda, mengenakan kerudung coklat dan kebaya warna coklat muda. Tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang keriput dibalut kain songket yang tebal. Mimi Rasinah termenung menyaksikan anak-anaknya menari. Terkadang dia menggerakkan tangan kanan perlahan memberi kode atau semacam instruksi pada para pemain musik gamelan yang mengiringi tarian. "Semua bagus, mereka menari dengan baik terutama cucu saya Aerli dan Rani," kata Mimi Rasinah yang berbicara terbata-bata. Pementasan Tari Topeng Indramayu ini dilakukan oleh anak tunggal Rasinah, Wacih (44), serta dua cucunya Aerli Rasinah dan Rani Fitriani (5). Mereka semua saat ini tergabung dalam Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang dipimpin Edi Supriyadi. Wacih, atau yang kini dipanggil Mimi Wacih membawakan Tari Topeng Samba, Aerli membawakan Tari Topeng Panji, Tari Topeng Tumenggung, dan Tari Topeng Kelana Udeng, sedangkan si kecil Rani membawakan Tari Topeng Kelana. "Rani berbakat sekali dibandingkan ibunya (Wacih, red) karena meski masih kecil daya ingatnya sangat kuat dan saya perhatikan gerakan tangan cukup lentur," kata Rasinah. Menurut Rasinah semua anak-anak dan menantu perempuannya telah mewarisi Tari Topeng Indramayu yang dipelajari Rasinah lewat sang ayah, Lastra. Uniknya, ia mengaku tidak pernah mengajarkan tarian tersebut, melainkan anak-anak itulah yang mempelajari sendiri ketika Rasinah tengah menari. "Mereka bisa karena terbiasa melihat saya menari. Termasuk dengan Rani, saya tidak mengajari. Dia bisa menari karena melihat ibu dan kakaknya menari," ujar Rasinah yang saat ini tinggal di desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat. Mimi Rasinah sebagai maestro Tari Topeng Indramayu telah mencapai delapan tingkat gaya tari topeng. Ia juga konsisten mempertahankan tarian gaya Indramayu di antara gaya-gaya tari topeng yang ada. Tari Topeng mulai berkembang pada saat penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Tari Topeng mulai dipopulerkan di lingkungan Istana Kacirebonan (Cirebon) dan dipentaskan pada acara-acara kerajaan. Tarian ini lambat laun mulai diminati masyarakat dan menyebar sampai Indramayu. Tari Topeng Indramayu dilestarikan oleh Lastra, ayah Mimi Rasinah. Perempuan bertubuh mungil ini kemudian mewarisi Tari Topeng Indramayu. Ia mempunyai gaya dan gerakan khusus yang tidak dimiliki oleh Tari Topeng Cirebon. "Regenerasi akan tetap berlangsung, kami akan terus meneruskan proses regenerasi Tari Topeng Indramayu meski Mimi Rasinah tidak lagi menari," demikian ujar Pemimpin Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, Edi Supriyadi. (*)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008