Lomba penelitian dan inovasi diharapkan dorong kemajuan Yogyakarta

Lomba penelitian dan inovasi diharapkan dorong kemajuan Yogyakarta

Penilaian untuk lomba inovasi dan penelitian di Kota Yogyakarta yang diikuti pelajar, mahasiswa serta masyarakat umum. (ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati)

Kami juga berharapĀ akan muncul calon intelektual muda yang berkualitas dan unggul serta mampu bersaing di percaturan global.
Yogyakarta (ANTARA) - Lomba penelitian dan inovasi bagi pelajar maupun masyarakat umum yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta secara rutin setiap tahun, diharapkan mampu menjadi salah satu motor untuk mendorong kemajuan Yogyakarta dan Indonesia.

“Tidak ada negara maju yang tidak diawali dengan melakukan banyak penelitian di berbagai bidang. Harapannya, lomba yang digelar rutin ini bisa menjadi lompatan bagi kemajuan Yogyakarta maupun Indonesia,” kata salah satu Juri Lomba Inovasi dan Penelitian Kota Yogyakarta Prof Sunjoto di sela penilaian di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, Indonesia sudah tertinggal jauh dari negara-negara maju lain di bidang penelitian sehingga perlu dilakukan upaya akselerasi agar bisa mengejar ketertinggalan tersebut, salah satunya dengan menggelar berbagai lomba inovasi dan penelitian.

“Jangan hanya menjadi pengikut saja tetapi harus bisa lebih unggul dari negara-negara lain sehingga pengenalan terhadap penelitian dan inovasi memang harus dilakukan sejak dini dari pelajar,” katanya.

Ia memastikan, pelajar yang sudah mengenal penelitian akan mampu berpikir lebih kreatif untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ditemui di kehidupan mereka sehari-hari. “Namun, mereka juga perlu didorong untuk berani melakukan eksekusi atas pemikirannya tersebut, yaitu dengan lomba seperti ini,” katanya.

Meskipun demikian, ia juga meminta agar hasil penelitian dan inovasi dari pelajar maupun masyarakat umum tersebut dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. “Misalnya, dengan memberikan bantuan dana untuk penelitian lebih lanjut. Jadi, tidak hanya berhenti untuk lomba saja,” katanya.

Baca juga: UMY resmikan laboratorium penelitian kedokteran dan terapi molekuler

Baca juga: B2P2BPTH Yogyakarta proses biji nyamplung jadi bahan bakar



Peserta meningkat

Lomba penelitian dan inovasi yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta pada tahun ini diikuti 186 peserta baik dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Lomba dibagi dalam dua kategori yaitu inovasi dan penelitian.

Setelah dilakukan seleksi, diperoleh 29 finalis yang terdiri dari 12 peserta untuk kategori inovasi dan 17 peserta untuk kategori penelitian, yang kemudian dipilih tiga pemenang untuk tiap kategori yang dibedakan sesuai tingkatannya yaitu pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum dengan total hadiah yang disiapkan Rp60 juta.

Jumlah peserta yang mengajukan proposal untuk mengikuti lomba pada tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan dibanding lomba yang sudah digelar sejak dua tahun lalu. Pada 2017, jumlah peserta yang mengajukan proposal tercatat sebanyak 33 peserta, dan meningkat menjadi 50 peserta pada 2018.

“Nantinya, karya dari pemenang pada lomba tahun ini akan dipamerkan di Galeria Mall pada 19-20 Oktober dalam kegiatan Festival Inovasi Yogyakarta,” kata Kepala Sub Bidang Penelitian Bappeda Kota Yogyakarta Sulistyo Handoko.

Baca juga: Peneliti: analisis DNA memudahkan pemuliaan tanaman

Baca juga: B2P2BPTH Yogyakarta hasilkan bibit kayu putih unggulan



Belimbing wuluh

Sementara itu, salah satu peserta lomba penelitian, SMP Negeri 5 Yogyakarta menampilkan karya tentang bahan pembersih cagar budaya yang aman dan lestari.

Tim yang terdiri dari tiga siswi tersebut melakukan penelitian terkait bahan-bahan alami yang bisa digunakan untuk membersihkan bangunan cagar budaya, yaitu asam jawa, jeruk nipis dan belimbing sayur atau belimbing wuluh.

“Kami melakukan penelitian di Taman Sari dan di Candi Sambisari. Dari tiga bahan ini yang paling memberikan hasil baik adalah belimbing sayur. Dinding tembok maupun batu candi menjadi lebih bersih,” kata Nasywa Khalda Alifa mewakili tim.

Ketiga bahan tersebut dipilih sebagai bahan pembersih karena aman dan tidak merusak lingkungan serta mudah diperoleh dan murah. “Untuk 25 mililiter perasan belimbing wuluh bisa digunakan membersihkan dinding candi seluas 2,7 meter persegi,” katanya.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Hari Karyawan mengatakan, lomba inovasi dan penelitian diharapkan mampu membudayakan cara berpikir sistematis dan logis untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitar.

“Kami juga berharap akan muncul calon intelektual muda yang berkualitas dan unggul serta mampu bersaing di percaturan global,” katanya.*

Baca juga: Redaksi Litera sebut karya penelitian rektor Unnes tidak asli

Baca juga: Balai Arkeologi Yogyakarta teliti bata Situs Sekaran


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Saat RSUD di Solo mampu produksi APD secara mandiri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar