Sukabumi (ANTARA News) - Sekitar 17 ribu usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Sukabumi mulai menurunkan produksinya sebagai dampak kenaikan harga gas elpiji pada 1 Juli 2008 lalu dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Sebagian besar UKM di Kabupaten Sukabumi masih bisa bertahan akibat kenaikan harga gas elpiji dan BBM karena mereka sudah tidak ada pilihan lain," kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sukabumi, Asep Wahyudin, di Sukabumi, Selasa. Menurut dia, UKM menghadapi kesulitan dengan meningkatnya harga bahan baku dan biaya transportasi akibat kenaikan harga BBM dan elpiji. Sehingga, lanjut dia, mereka terpaksa mengurangi jumlah produksinya dan menyesuaikan dengan permintaan. "Para UKM terbantu dengan masih tingginya permintaan dari luar Sukabumi. Namun, bila jumlah permintaan berkurang, maka kemungkinan para UKM banyak yang kolaps," katanya. Sementara untuk pangsa pasar lokal, masih kurang diminati dibandingkan pasar di luar daerah sehingga kebanyakan UKM kini lebih memprioritaskan hasil produksinya untuk dipasarkan keluar Sukabumi. Pemkab Sukabumi telah memberikan insentif untuk membantu sektor UKM agar bisa bertahan dari himpitan kenaikan BBM dan kenaikan gas elpiji, yakni berupa bantuan permodalan yang diambil dari APBD dan bantuan permodalan dari kalangan perbankan. "Pelaku UKM harus kreatif, sehingga bisa memperoleh bantuan modal dari perbankan," tuturnya. Menurut dia, program subsidi pemerintah terhadap sejumlah barang kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan kedelai juga ikut membantu UKM, sehingga mereka masih bisa bertahan.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2008