Pemkot Palu tangani 70 kasus kebakaran lahan

Pemkot Palu tangani 70 kasus kebakaran lahan

Petugas Pemadam Kebakaran berupaya memadamkan api dalam peristiwa kebakaran lahan kosong di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (20/9/2019). Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah meminta masyarakat diwilayahnya untuk mewaspadai dan mencegah kebakaran lahan dan hutan di daerah tersebut menyusul kemarau panjang yang mengakibatkan mengeringnya lahan dan berpotensi mengakibatkan kebakaran. ANTARA/Mohamad Hamzah

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah selama musim kemarau ini sudah menangani 70 kali kasus kebakaran lahan kosong di kota itu.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Palu, Sudaryalo R Lamangkona di Palu, Selasa mengatakan kebakaran lahan dipicu adanya aktivitas pembakaran sampah dilahan terbuka yang ditumbuhi rumput-rumput kering sehingga api dengan mudah merembet, akibatnya terjadi kebakaran meluas.

"Kasus-kasus kebakaran lahan ini tertangani dengan baik. Personel kami selalu siap siaga beroperasi jika terjadi hal-hal genting," ujar Sudaryano.

Dia mengemukakan, dari penanganan kasus tersebut di Ibu Kota Sulawesi Tengah tidak ada terjadi kerusakan material maupun harta bendah akibat kebakaran lahan kosong.
Baca juga: Dishut Sulteng akui ada kebakaran lahan pengembalaan

Menurut dia, beberpa bulan terkhir kondisi cuaca di Kota Palu mengalami perubahan yang cukup drastis, sebangaimana analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan sangat rendah yang menyebabkan massa udara kering dan panas di daerah-daerah tertentu meningkatkan potensi kebakaran hutan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dia menilai, peralihan musim juga memicu kebakaran, cuaca terik yang berlebihan menyebakan terjadinya kekeringan rumput dan jika terkena percikan api sangat mudah terbakar. Kelembapan Kota Palu berkisar 30 - 40 persen pada siang hari dan suhu yang terpantau 33 - 37 derajat celcius, di siang hari.

"Kasus yang kami jumpai kebakaran lahan rata-rata bukan diakibatkan dari fenomena alam, ini justru karena aktivitas manusia baik membakar sampah maupun membuka lahan perkebunan," jelas Sudaryano.
Baca juga: Sulteng berpotensi dapat kiriman asap dari Kalimantan

Dia mengimbau, bagi masyarakat yang ingin membuka lahan perkebunan dengan cara membakar, untuk saat ini jangan dilakukan sebab cukup berbahaya karena Kota Palu masih peralihan musim sehingga terik matahari sangat menyengat.

Disamping itu, pembankaran sampan oleh masyarakat perlu memperhatikan arah angin khsusnya waktu-waktu tertentu agar tidak membahayakan warga lainnya.

"Mebakar sampah jangan siang hari karena berbahaya disamping cuaca panas, angin bertiup lebih kencang dan sampah-sampah yang dibakar harus dikumpul dan dijaga sampai api betul-betul padam," kata dia.
Baca juga: BENCANA ASAP - Palu makin memburuk
 

Pewarta: Muhammad Arshandi/Moh Ridwan
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Faktor penting penyebab kebakaran hutan dan lahan

Komentar