IMF pangkas perkiraan pertumbuhan global 2019 menjadi tiga persen

IMF pangkas perkiraan pertumbuhan global 2019 menjadi tiga persen

Gita Gopinath, kepala ekonom IMF, berbicara selama konferensi pers di Santiago, Chili, 23 Juli 2019. Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan global menjadi tiga persen pada 2019, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Selasa. (Xinhua/Jorge Villegas)

Pertumbuhan terus melemah dengan meningkatnya hambatan perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik
Washington (ANTARA) - Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (15/10) memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk 2019 menjadi tiga persen dalam laporan World Economic Outlook (WEO) yang baru dirilis, turun 0,2 poin persentase dari perkiraannya pada Juli.

Memperhatikan bahwa ini adalah langkah paling lambat sejak krisis keuangan global, kepala ekonom IMF Gita Gopinath mengatakan dalam konferensi pers di kantor pusat pemberi pinjaman global itu bahwa "Pertumbuhan terus melemah dengan meningkatnya hambatan perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik."

"Pertumbuhan juga dibebani oleh faktor-faktor spesifik negara di beberapa ekonomi emerging markets, dan kekuatan struktural seperti pertumbuhan produktivitas yang rendah dan demografi yang menua di negara maju," kata Gopinath kepada wartawan di kantor pusat IMF.

Ekonomi negara-negara maju terus melambat menuju potensi jangka panjang mereka, dengan pertumbuhan diturunkan menjadi 1,7 persen tahun ini, dibandingkan dengan 2,3 persen pada 2018, laporan itu menunjukkan.

Pertumbuhan di emerging markets dan ekonomi berkembang juga telah direvisi turun menjadi 3,9 persen untuk 2019, dibandingkan dengan 4,5 persen tahun lalu.

Laporan WEO Oktober juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan global untuk tahun 2020 menjadi 3,4 persen, turun 0,1 poin persentase dari estimasi pada Juli. Sebelumnya, laporan WEO Juli sudah menurunkan perkiraan pertumbuhan untuk 2019 dan 2020, masing-masing turun 0,1 poin persentase dari estimasi pada April.

IMF baru-baru ini memperkirakan bahwa ketegangan perdagangan AS-China akan secara kumulatif mengurangi tingkat PDB global sebesar 0,8 persen pada 2020, mengingat usulan kenaikan tarif yang dijadwalkan 15 Oktober dan 15 Desember. Jika tarif ini tidak pernah terjadi, kata Gopinath, itu akan menurunkan estimasi dampak negatif terhadap PDB global dari 0,8 persen menjadi 0,6 persen.

"Kami menyambut setiap langkah untuk mengurangi ketegangan dan untuk memperbaiki langkah-langkah perdagangan baru-baru ini, terutama jika mereka dapat memberikan jalan menuju kesepakatan yang komprehensif dan abadi," katanya.

Baca juga: Bank Dunia desak reformasi struktural, pertumbuhan global melambat

Selain dari ketegangan perdagangan, Gopinath juga menyoroti ketegangan geopolitik sebagai risiko penurunan lain terhadap pertumbuhan global, memperingatkan bahwa risiko terkait Brexit dapat lebih lanjut mengganggu aktivitas ekonomi, dan menggagalkan pemulihan yang sudah rapuh di ekonomi emerging markets dan kawasan euro.

"Untuk meremajakan pertumbuhan, pembuat kebijakan harus membatalkan hambatan perdagangan dengan perjanjian yang tahan lama, mengendalikan ketegangan geopolitik, dan mengurangi ketidakpastian kebijakan dalam negeri," katanya.

Dalam penilaian IMF, tanpa adanya stimulus moneter, pertumbuhan global akan lebih rendah sebesar 0,5 poin pada 2019 dan 2020. Namun, kepala ekonom IMF itu mencatat bahwa kebijakan moneter tidak bisa menjadi satu-satunya permainan di kota. "Ini harus dibarengi dengan dukungan fiskal di mana ruang fiskal tersedia, dan kebijakan belum terlalu ekspansif," katanya.

Sementara pelonggaran moneter telah mendukung pertumbuhan, katanya, "adalah penting bahwa peraturan makroprudensial yang efektif digunakan hari ini untuk mencegah risiko kesalahan harga dan penumpukan kerentanan keuangan yang berlebihan."

Gopinath mengatakan prospek global "tetap genting" dengan pelambatan yang tersinkronisasi dan pemulihan yang tidak pasti. "Dengan pertumbuhan tiga persen, tidak ada ruang untuk kesalahan kebijakan dan kebutuhan mendesak bagi pembuat kebijakan untuk mendukung pertumbuhan," katanya.

"Sistem perdagangan global perlu ditingkatkan, bukan ditinggalkan," tegasnya. "Negara-negara perlu bekerja sama karena multilateralisme tetap menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah-masalah besar, seperti risiko dari perubahan iklim, risiko keamanan siber, penghindaran pajak dan penggelapan pajak, dan peluang serta tantangan teknologi keuangan yang muncul," katanya.

Baca juga: Harga minyak kembali turun, pasar khawatir pertumbuhan ekonomi global

Baca juga: WTO pangkas perkiraan pertumbuhan perdagangan saat konflik meningkat

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walaupun di bawah target, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan

Komentar