Kualifikasi Piala Dunia 2022

Laga dua Korea di Pyongyang brutal bagai perang sungguhan

Laga dua Korea di Pyongyang brutal bagai perang sungguhan

Pesepak bola Korea Selatan Son Heung-min (kanan) toba bersama skuat Korsel di bandara Incheon di Incheon 17 Oktober 2019 setelah pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Grup H di Stadion Kim Il Sung Stadium di Pyongyang. (AFP/JUNG YEON-JE)

Pertandingan itu laksana perang
Seoul, Korea Selatan (ANTARA) - Timnas Korea Selatan sudah kembali ke negerinya dari lawatan ke Pyongyang untuk menjalani pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 "yang brutal" dan disebut seorang pejabat sepak bola Korea (KFA) sebagai benturan fisik "seperti perang".

Pertandingan itu yang merupakan pertemuan pertama kedua tim di bumi Korea Utara dalam 30 tahun terakhir, berakhir seri 0-0 dan dimainkan di stadion yang sama sekali tidak ada penontonnya.

Pertandingan ini juga tidak disiarkan oleh satu pun televisi karena Korea Utara menolak menayangkan langsung pertandingan ini.

Korea Utara yang terkucil dan Korea Selatan yang demokratis nan kaya secara teknis masih dalam keadaan perang karena perang saudara 1950-1953 berakhir tanpa ada gencatan senjata dan perjanjian damai.

Tahun lalu berlangsung diplomasi olahraga yang sibuk antara dua Korea tetapi sejak itu hubungan mereka mendingin lagi setelah mandeknya perundingan nuklir dan rudal Korea Utara.

Striker Tottenham Hotspur Son Heung-min menyebut laga di Pyongyang itu sebagai pertandingan yang sangat emosional.

Baca juga: Cerita unik nan ganjil di balik imbang 0-0 dua Korea

"Sejujurnya, pertandingan itu keras sekali sampai-sampai saya berpikir kami sangat beruntung bisa pulang tanpa ada seorang pun yang cedera," kata pemain ini kepada wartawan Selasa begitu tiba di bandara Incheon via Beijing.

"Kami bahkan bisa mendengar banyak umpatan yang sangat kasar dari kedua tim."

Choi Young-il, wakil presiden Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA), mengungkapkan para pemain Korea Utara luar biasa agresif.

"Pertandingan itu laksana perang," kata dia seperti dikutip Reuters.

"Mereka menggunakan apa saja dari sikut sampai tangan sampai lutut untuk menghalau pemain-pemain kami. Sungguh pertandingan yang sulit."

Kedua tim masing-masing diganjar dua kartu kuning.

Baca juga: Lawan Vietnam, Indonesia jalani laga penting dengan fisik "kering"

"Para pemain Korea Utara bahkan tak mau kontak mata ketika kami berbicara kepada mereka, belum lagi respons mereka," kata Choi.

Choi mengungkapkan KFA berencana membahas apakah pertandingan ini akan mendorong mereka mengajukan keberatan kepada badan sepak bola dunia FIFA atau Konfederasi Sepak Bola Asia mengenai cara Korea Utara menjalani pertandingan itu.

Dalam video yang dibagikan di Twitter oleh duta besar Swedia untuk Korea Utara Joachim Bergstrom, Son terlihat berusaha memainkan peran penengah karena para pemain kedua tim terus berkonfrontasi satu sama lain.

"Emosi tingkat tinggi," tulis Bergstrom dalam cuitannya. Dia termasuk dari segelintir penonton yang diperbolehkan menonton lagi ini bersama Presiden FIFA Gianni Infantino.

Korea Utara menyediakan rekaman pertandingan ini dalam DVD tetapi stasiun televisi Korea Selatan KBS batal menyiarkan ulang Kamis ini karena kualitas videonya jelek.

Menteri Unifikasi Korea Selatan Kim Yeon-chul yang mengurusi masalah hubungan intra-Korea Kamis mengatakan memang "sangat mengecewakan" Korea Utara tak membolehkan pertandingan itu disiarkan langsung.

Baca juga: Indonesia dipaksa menyerah 0-3 oleh Thailand

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertemuan Menpora RI-Malaysia pasca ricuh di GBK

Komentar