UI: Melawan radikalisme dengan benteng pemikiran kritis

UI: Melawan radikalisme dengan benteng pemikiran kritis

Kepala Program Studi Vokasi Humas Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati (Ketiga dari kiri). ANTARA/HO-Humas UI

riset menemukan 1 dari 2 orang akan mendukung politisi yang dia percaya
Depok (ANTARA) - Kepala Program Studi Vokasi Humas Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menyatakan upaya untuk melawan radikalisme ialah dengan menggunakan benteng pemikiran kritis.

"Belajar dari Australia, kemampuan berpikir kritis bukan sesuatu yang tiba-tiba terbentuk di dalam masyarakat. Namun dibutuhkan upaya sistematis membangun ekosistem kritis, seperti perpustakaan," kata Devie yang juga penerima Australia Awards 2019 di Depok, Minggu.

Ia mengatakan, perpustakaan dirancang sebagai arena penyelesaian masalah bagi masyarakat, antara lain membantu masyarakat untuk tidak takut dengan teknologi, tapi justru mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan perubahan.

"Perpustakaan bukan hanya tempat meminjam dan membaca buku, tetapi menjadi pusat mengembangkan kreativitas, membangun inovasi, menyelesaikan masalah, meningkatkan spirit dan aktivitas kewirausahaan," kata Devie peneliti sosial vokasi UI.

Menurut dia Perpustakaan bersifat hybrid, yaitu menyediakan kebutuhan offline dan online. Perpustakaan menyediakan 2T (teknologi dan training), yang seluruhnya diberikan secara gratis.

Pelatihan teknologi yang diberikan gratis meliputi lima area yaitu core skills, extra skills, digital devices, library rewources dan tech kids.

Ia mencontohkan pelatihan yang diberikan antara lain, komputer, internet, editing foto, pemasaran daring, dan robotik.

Baca juga: Dominasi Koalisi Parpol Hilangkan Sikap Kritis DPR
Baca juga: Pengamat: Masyarakat harus terus diingatkan untuk cegah radikalisme


Ia mengatakan, Australia merancang program-program pelatihan di perpustakaan, untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang mengkoneksikan individu yang satu dengan yang lain, sehingga dengan jaringan baru ini, masyarakat dapat terbantu untuk mendapatkan ide-ide dan membentuk komunitas, yang kemudian secara nyata melakukan bisnis.

"Ketika masyarakat sudah memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kesibukan, mereka akan fokus untuk melakukan hal-hal produktif. Selain itu, mereka juga sudah terbiasa melakukan langkah-langkah rasional, karena senantiasa dapat mengakses fasilitas gratis dan terdepan yang diberikan oleh perpustakaan," kata Devie

Namun kata Devie berpikir kritis menjadi sulit karena dalam 60 detik saja terdapat 60 blog baru; 98 ribu tweets; 600 video baru di youtube; 13 ribu aplikasi iPhone yang di-download; 695 ribu status FB yang diupdate; 695 ribu pencarian dan lain-lain. Kondisi yang super bising dan aktif ini berpeluang menumpulkan daya kritis.

Ia mengatakan berbagai informasi yang masuk, tidak hanya menyita waktu audiens, namun menguras kepercayaan masyarakat terhadap banyak institusi, khususnya media dan pemerintah.

Situasi ini akibat banyaknya informasi negatif seperti misinformasi, disinformasi dan hoax yang menyerbu media. 'Yang cukup tragis, media (konvensional) justru menjadi salah satu institusi yang paling tidak dipercaya di 22 negara dari 28 negara yang disurvei (Fray, 2019)," tambah Devie, penerima Australia Awards 2019.

"Yang kemudian semakin memperlemah nalar ialah ternyata riset menemukan 1 dari 2 orang akan mendukung politisi yang dia percaya, meskipun dia mengetahui bahwa politisi itu membesar-besarkan kebenaran," katanya.

Devie pemrakarsa aktivitas klinik digital ini mengatakan tidak hanya itu 53 persen individu tidak mau mendengarkan orang atau organisasi yang bertentangan dengan mereka, serta 4 kali lebih besar mengabaikan segala informasi yang tidak sesuai dengan keyakinannya. 

Baca juga: Pemikiran kritis penting dalam memerangi hoaks
Baca juga: Mahasiswa STAI Latansa Mashiro perkuat Pancasila cegah radikalisme

 

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menag minta PNS jadi garda terdepan melawan radikalisme

Komentar