Rektor UMJ: Islam menentang radikalisme

Rektor UMJ: Islam menentang radikalisme

(foto ilustrasi)

Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Syaiful Bakhri menegaskan bahwa Islam agama damai dan tidak mengajarkan radikalisme bahkan menentangnya.

"Radikalisme itu sebuah musuh ideologi. Kalau dalam agama tentu ada mazhab, tapi Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan radikalisme, bahkan menentang. Islam itu agama damai, Islam itu agama penuh rahmat bagi seluruh semesta. Jadi pengeboman dan segala aksi terorisme itu bukan Islam tapi ajaran yang keliru penganut Islam. Mereka selama ini ‘membajak’ Islam untuk pembenaran aksinya," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Menurut Syaiful, ada dua isu lama yang berkembang terkait radikalisme. Pertama radikal yang berkaitan dengan ideologi di zaman Orde Baru (Orba) yang disebut dengan ideologi ekstrem kiri dan kanan. Saat itu, terorisme memang belum berkembang seperti sekarang. Ekstrem atau radikal kanan meliputi aliran dalam agama, khususnya Islam, sedangkan ekstrem kiri komunis.

Pada masa Orba, perbincangan mengenai komunis tidak pernah ada respon sehingga itu seolah-olah telah berakhir.

Alhasil, saat ini isu radikal yang menonjol itu adalah ekstrem kanan, yang ironisnya ditujukan kepada umat Islam.

Di sisi lain, isu radikalisme itu dijadikan dasar bahwa ada mazhab Islam internasional yang digunakan ISIS dan Jamaah Islamiyah (JI). Hal itulah yang akhirnya menimbulkan gangguan keamanan terhadap masyarakat internasional.

Baca juga: Wapres Ma'ruf dan Raja Malaysia bahas upaya perangi radikalisme

Baca juga: PBNU dan Amerika Serikat sepakat atasi radikalisme

Baca juga: UI: Melawan radikalisme dengan benteng pemikiran kritis


Di Indonesia, lanjut wakil ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammdiyah 2010-2015 ini, seluruh masyarakat dan negara terus memerangi radikalisme sebagai sebuah musuh ideologi. Tidak hanya umat Islam, seluruh penganut agama yang ada di Indonesia juga melakukan hal serupa. Sampai pada peristiwa penusukan Menko Polhukam Jenderal (purn) Wiranto beberapa waktu lalu.

"Itu bukan ajaran Islam, tapi ajaran pemeluk yang tidak paham Islam dan tersesat," tukas Syaiful.

Lebih lanjut Syaiful mengatakan, untuk radikal atau ekstrem kiri, memang sempat muncul lagi melalui isu ada gerakan baru komunis. Tapi karena isunya tidak seksi dan tidak mendapat pemberitaan, isu itu kalah dari ekstrem kanan.

Selain itu, ekstrem kiri juga tidak harus menghadapi aturan negara seperti UU Ketahanan dimana menjadikan komunis sebagai musuh bersama sehingga secara legal mereka tidak mungkin berkembang. Dari situlah, ungkapnya, isu berikutnya yaitu terorisme.

Menurutnya, terorisme itu adalah sebuah gerakan, tidak atas nama ideologi, tetapi teror yang dilakukan seseorang atau kelompok yang tujuannya bukan semata-mata ingin mengganti ideologi, namun juga untuk menaku-nakuti dan merusak kewibawaan.

Seperti kasus Wiranto, ia menilai itu adalah aksi individu yang sasarannya lambang negara, bukan pribadi.

Pewarta: M Arief Iskandar
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menag minta PNS jadi garda terdepan melawan radikalisme

Komentar