BPPT tingkatkan kualitas "Dragon Blood", bahan obat yang diburu China

BPPT tingkatkan kualitas "Dragon Blood", bahan obat yang diburu China

Dokumentasi - Seorang pekerja melihat bibit jernang saat proses penguapan di salah satu tempat budidaya bibit di Desa Gampa, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Senin (18/2/2019). ANTARA/Syifa Yulinnas./aa.

hampir semua obat China butuh produk ini
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Zhejiang University asal China  untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah ekspor Jernang atau Dragon blood yang menjadi bahan obat herbal di China.

"BPPT dan Zhejiang University akan mengembangkan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan kualitas bahan baku Dragon blood sehingga dapat memenuhi standar kualitas Food and Drug Administration China," kata Direktur Pusat Teknologi Bioindustri Asep Riswoko dalam konferensi pers Kerja Sama Joint Lab on Biotechnologu untuk Mendukung Pengembangan Bisnis dan Ekonomi di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa.

Mitra industri yakni PT Nudira Sumberdaya Indonesia dari Indonesia dengan Zhejiang Conba Pharmaceutical Co. Ltd. dari China bekerja sama pada pengembangan teknologi ekstraksi, produksi dan komersialisasi produk berbasis Dragon blood dengan melibatkan BPPT dan Zhejiang University.

Dragon blood banyak dibutuhkan karena mengandung senyawa aktif yang potensial untuk dikembangkan dan digunakan sebagai obat herbal dan Traditional Chinese Medicine.

Asep mengatakan keterlibatan mitra industri yang telah digagas tersebut di atas diharapkan dapat mendukung semangat hilirisasi atas hasil kajian teknologi (joint research) yang telah dilakukan oleh BPPT dan Zhejiang University dan memberikan dampak yang konkret bagi pengembangan industri, bisnis dan ekonomi masyarakat.

Baca juga: Industri farmasi kenalkan obat herbal asli Indonesia di TEI 2019
Baca juga: BPPT kembangkan enzim dan obat herbal bersama Zhejiang University


Asep menuturkan tanaman jernang merupakan tanaman endemik yang hidup di hutan Indonesia seperti di hutan sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, dan di Kalimantan. "Itu sangat dibutuhkan untuk pengembangan obat herbal di China," ujarnya.

Menurut Asep, kerja sama tersebut akan mengupayakan peningkatan kualitas Dragon blood sehingga memiliki nilai tambah dan menjadi bahan aktif yang sesuai dengan standar di farmasi di China untuk dijadikan sebagai bahan pengembangan obat herbal di China.

Jika kualitas dan produktivitas dari tanaman jernang dapat ditingkatkan, maka akan ada peningkatan nilai ekspor buah jernang dari Indonesia ke China. dan itu berpotensi sekitar 10 juta dolar AS setiap tahun jika berhasil dikembangkan.

Presiden Direktur PT Nudira Sumberdaya Indonesia Nursyamsu Mahyuddin mengatakan Dragon blood sudah diketahui dan digunakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, hanya saja belum dimanfaatkan secara luas.

Baca juga: Ilmuwan AS ungkap rahasia herbal China
Baca juga: Pengembangan obat herbal akan gunakan bahan biosintetis


Mereka kebanyakan mengambil buah jernang secara tradisional dari hutan untuk dijual atau dimanfaatkan pribadi.

Karena hidup dan tumbuh di hutan, maka perlu ada sentuhan teknologi untuk mendorong agar tanaman jernang dapat dibudidayakan masyarakat di luar hutan serta meningkatkan mutu buah jernang sehingga menjamin kualitas buah dan ketersediaan suplai untuk ekspor.

"Hampir semua obat China butuh produk ini, sumber Dragon blood adanya di hutan yang suplainya jadi tidak menentu kadang banyak kadang tidak, ini yang harus kita atasi," ujarnya.

Karena pengelolaan tanaman dan buah Dragon blood masih tradisional, maka masyarakat Indonesia tidak mendapat manfaat optimal dan tidak memiliki daya tawar untuk kepastian kualitas buah tersebut sehingga harga buah jernang ditentukan oleh pembeli. Ini tentu merugikan apalagi sampai ke kegiatan ekspor.

Baca juga: Peneliti LIPI: Indonesia sumber potensial penemuan obat baru
Baca juga: Tren obat hewan berbahan herbal tekan penggunaan antibiotik
​​​​​​

"Melalui kerja sama ini kami berharap kita dapat menemukan cara mengoptimalkan produk itu, sehingga punya nilai jual lebih baik, nilai tambahnya lebih baik," tuturnya.

Kepala Urusan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Head of Science and Technology Affairs) di Kedutaan Besar China untuk Indonesia Xie Chengsuo mengatakan kerja sama itu merupakan salah satu bentuk kerja sama bilateral antara pemerintah baik Indonesia dan China di bidang pemanfaatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan pembangunan bangsa kedua negara.

"Kami berharap dukungan BPPT dan Zhejiang University dapat mengembangkan teknologi canggih untuk diimplementasikan dalam menciptakan produk baru yang dapat dikomersialisasikan," ujarnya.

PT. Nudira Sumberdaya Indonesia adalah perusahaan nasional yang memiliki kompetensi bisnis di bidang penyediaan produk-produk berbasis agrikultura untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor, salah satunya melakukan ekspor Dragon blood ke China melalui Malaysia atau Singapura.

Sedangkan Zhejiang Conba Pharmaceutical merupakan sebuah perusahaan farmasi nasional China dengan peringkat 40 besar dalam industri farmasi nasional dan 10 besar dalam industri obat China dengan fokus bisnis pengembangan dan produksi obat herbal.

PT Nudira memiliki kemampuan menyediakan atau menyuplai Dragon blood ke China dengan kapasitas 1–10 ton per bulan. Harga Dragon blood grade A mencapai 700–1000 dolar AS per kilogram dan grade D sekitar 50–60 dolar AS per kilogram.

Baca juga: Seorang pencari jernang hilang di hutan Aceh Besar
Baca juga: BPOM: Indonesia berpotensi memimpin pasar obat herbal

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPPT pastikan hujan buatan kurangi karhutla secara signifikan

Komentar