Timika, Papua,(ANTARA News) - Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Kepolisian RI dari Makassar, Sabtu pagi, direncanakan melakukan identifikasi jenis mortir yang ditemukan di areal PT Freeport Indonesia (PTFI. Mortir itu ditemukan pada Kamis malam (11/9) di bawah jembatan Kali Kabur (Sungai Otomona), Mile 39 ruas jalan Timika-Tembagapura. Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen. Pol. FX Bagus Eko Danto, kepada wartawan di Timika, mengatakan tim Labfor dari Makassar telah tiba di Timika Jumat malam. "Sabtu pagi, tim labfor mulai bekerja untuk meneliti barang bukti yang kini diamankan di Mako Detazemen B Brimob Mimika," kata Eko Danto. Barang bukti berupa mortir itu berukuran tinggi 50 cm dan berat 15 kg merupakan satu dari dua mortir yang dipasang pelaku. Salah satu di antaranya sempat meledak, namun tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. "Target pelaku jelas, untuk merusak jembatan yang merupakan jalur urat nadi yang menghubungkan Timika dengan Tembagapura. Tim konstruksi PT Freeport Indonesia telah menyelidiki area ledakan, namun ledakan tersebut tidak menimbulkan kerusakan pada jembatan tersebut," kata Eko Danto. Menurut Ekodanto, dari hasil identifikasi tim labfor Polri akan diketahui jenis mortir yang digunakan, nomor seri, negara pembuat, dan apakah mortir itu peninggalan Perang Dunia II atau bukan. Guna menyelidiki kasus ledakan mortir di areal PTFI, pada Jumat siang, satu unit pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Polda Papua yang berjumlah 19 orang dan dipimpin Kombes Pol Wisarkland telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Mile 39 dan Mile 50. Polisi juga telah meminta keterangan dari 18 orang saksi yakni masyarakat yang berada di sekitar areal ledakan dan anggota keamanan PTFI bersama lima orang aparat kepolisian yang ikut melakukan olah TKP awal sesaat setelah kejadian. Kapolda Papua mengatakan tidak akan menutup akses bagi warga yang melakukan kegiatan pendulangan tradisional di sepanjang Kali Kabur. "Kami tidak akan menutup jalur pendulangan, namun aparat Satuan Tugas Amole V berkoordinasi dengan anggota security PTFI akan meningkatkan pengawasan pada warga yang masuk ke areal obyek vital nasional," kata Eko Danto. Di sepanjang alur Kali Kabur mulai dari Mile 74 hingga Mile 20 terdapat ribuan pendulang tradisional yang kini menggantungkan hidup dari kegiatan mendulang butiran emas. Butiran emas halus ikut terbawa bersama material yang tidak memiliki nilai ekonomis (tailing) saat dilepas dari pabrik pengolahan PTFI di Mile 74.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008