Serangan udara hantam pabrik biskuit di Libya

Serangan udara hantam pabrik biskuit di Libya

Tim keamanan dan gawat darurat bekerja di lokasi serangan udara di sebuah pusat penahanan yang banyak menampun migran Afrika di pinggiran kota Tripoli, Libya, Rabu (3/7/2019), dalam gambar yang didapatkan dari media sosial. Courtesy of Jihaz Mukafahat Alhijrat Alghyr Shareia/Social Media via REUTERS/ama/cfo

Tripoli (ANTARA) - Sedikitnya 10 karyawan tewas dan 35 orang lainnya terluka saat serangan udara menghantam sebuah pabrik biskuit di Libya pada Senin (1811), yang diduga pejabat tinggi PBB sebagai kejahatan perang.

Mayoritas korban tewas dalam serangan di Wadi Rabea, sekitar 21 km dari ibu kota Tripoli, tampaknya adalah para migran. Selain itu, ada dua warga negara Libya, kata Utusan PBB untuk Libya Ghassan Salame kepada Dewan Keamanan.

Gambar yang diunggah otoritas menunjukkan sejumlah korban luka berpakaian sipil yang berlumuran darah terbaring di dalam ambulans atau fasilitas medis.

Tripoli sejak April kerap diserang oleh pasukan yang loyal kepada Khalifa Haftar, komadan yang berbasis di Libya timur. Serangan oleh Tentara Nasional Libya (LNA) sekejap berhenti dan kedua pihak menggunakan drone serta pesawat tempur untuk melancarkan serangan udara di tengah pertempuran sporadis.

Serangan udara LNA kerap menghantam sejumlah kawasan sipil di Tripoli. Pejabat di Libya timur yang dihubungi Reuters pada Senin menuturkan mereka tidak memiliki informasi soal serangan udara pasukannya.

"Terlepas apakah serangan itu sengaja menargetkan pabrik tersebut atau salah sasaran, serangan itu kemungkinan merupakan kejahatan perang," kata Salame.

Lebih dari 200 warga sipil tewas dan 128.000 orang lainnya mengungsi akibat konflik, menurut Salame.

Sumber: Reuters

Baca juga: AS minta LNA Haftar berhenti menyerang Tripoli

Baca juga: Otoritas Libya dukungan PBB sita pesawat dari Libya timur

Baca juga: Serangan udara AS di Libya selatan menelan belasan korban

 

Libya Minta Bantuan Tanggulangi Terorisme

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar