Artikel

Sepenggal cerita dari Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia 2019

Oleh A Rauf Andar Adipati

Sepenggal cerita dari Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia 2019

Tim pelajar Indonesia berfoto bersama sebelum pertandingan pembukaan Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia 2019 melawan Sri Lanka di Stadion Batakan, Balikpapan, Minggu (17/11/2019). (ANTARA/Novi Abdi)

Seakan-akan saya datang ke sini serasa stadion di Eropa
Jakarta (ANTARA) - Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia/Asian Schools Football Championship 2019 telah usai dengan melahirkan tim pelajar Thailand sebagai jawara. Dari ajang tahunan tersebut, terdapat sejumlah cerita mengenai hal-hal yang menyertainya.

Stadion Batakan awalnya tidak direncanakan menjadi satu-satunya arena bagi para pelajar dari delapan negara untuk bertarung. Rencana awal, kejuaraan hajatan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu juga akan digelar di Stadion Sudirman.

Namun rencana berubah beberapa hari menjelang upacara pembukaan. Para pengurus dari Federasi Sepak Bola Pelajar Asia (Asian Schools Football Federation) menilai kondisi Stadion Sudirman kurang layak menjadi tempat berlangsungnya ajang tahunan tersebut, sehingga memutuskan untuk hanya memainkan seluruh pertandingan di Stadion Batakan.

Sebagai stadion baru, Stadion Batakan yang dibuka pada 2017 itu masih sangat terawat. Bahkan stadion yang kerap menjadi markas Persiba Balikpapan tersebut memiliki skuat kebersihan yang bertugas membersihkan stadion setiap hari.

Baca juga: Pelatih tim pelajar Thailand puas dengan kualitas Stadion Batakan

Dari wawancara yang dilakukan, terdapat total 25 orang petugas kebersihan yang dipekerjakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan untuk mengurusi stadion tersebut.

Menurut pengakuan salah seorang petugas kebersihan, Lidya, ia dan rekan-rekannya yang bekerja di sana merupakan warga lokal yang rumahnya tergusur akibat pembangunan stadion.

"Memang dari pemkot yang diutamakan orang-orang lokal untuk bekerja di sini, Mas," kata Lidya, saat ditemui pada Rabu (20/11).

Lidya dan kawan-kawannya mungkin merupakan sebagian orang yang beruntung karena mendapatkan pekerjaan dan ganti rugi yang sepadan setelah rumahnya digusur untuk dibangun stadion.

Nasib berbeda dialami salah seorang pedagang kaki lima yang berjualan di area parkir stadion. Salah seorang pedagang yang minta namanya dirahasiakan mengatakan ia dan rekan-rekannya sudah mendapat ganti tanah untuk rumahnya yang digusur untuk membangun Stadion Batakan, tetapi ia belum menerima surat tanah sebagai bukti legal kepemilikan tanahnya.

Adopsi gaya modern

Stadion Batakan mengadopsi gaya stadion-stadion sepak bola modern dengan meniadakan lintasan lari di sekeliling lapangan sepak bola. Namun jarak antara para penonton dengan lapangan tersebut tidak menimbulkan potensi masuknya para penonton ke lapangan, karena terdapat parit besar yang memberi jarak antara tribun penonton dengan lapangan.

Parit besar itu juga menimbulkan cerita tersendiri bagi pelaksanaan pertandingan sepak bola di stadion tersebut. Saat berlangsungnya pertandingan, terkadang para pemain menendang bola sehingga masuk ke dalam parit. Para petugas stadion kemudian akan menggunakan semacam tongkat berjaring untuk mengambil bola dari dalam parit.

Kursi-kursi yang bisa dilipat juga menjadi ciri stadion modern lain yang dapat ditemukan di Stadion Batakan. Sayangnya, dari seluruh tribun yang ada, baru tribun Barat yang dilengkapi kursi, sisanya masih belum dipasangi kursi.
 
Sejumlah pemain tim pelajar Indonesia (mengenakan jaket hitam) menyaksikan pertandingan Grup B Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia 2019 Antara Korea Selatan melawan China di Stadion Batakan, Balikpapan, Senin. (ANTARA/A Rauf Andar Adipati)


Rumput di lapangan Stadion Batakan juga menjadi bahan pujian dari tim-tim pelajar yang datang. Dari berbagai wawancara yang dilakukan terhadap ofisial tim-tim dari negara yang fasilitas sepak bolanya secara umum lebih baik dari Indonesia, mereka menyatakan puas dan kagum dengan kualitas rumput di stadion itu.

Stadion Batakan juga diakui oleh Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto telah membuatnya jatuh cinta.

"Saya falling in love ya dengan stadion ini. Seakan-akan saya datang ke sini serasa stadion di Eropa," kata Gatot saat ditemui setelah pertandingan final di Stadion Batakan, Sabtu (23/11.2.3.).

Fasilitas top lainnya di Stadion Batakan adalah keberadaan musholla bagi umat Muslim yang ingin menunaikan kewajiban sholat. Total terdapat enam musholla di stadion itu.

Sayangnya karena sampai saat ini belum ada tempat wudhu yang menempel pada musholla-musholla tersebut, orang-orang yang berwudhu akan melakukannya di toilet. Sehingga, kerap kali lantai toilet menjadi becek akibat orang-orang berjalan setelah berwudhu untuk menuju musholla.

Perihal urusan membuang hajat, Stadion Batakan dilengkapi toilet-toilet dengan fasilitas yang baik. Setiap toilet memiliki urinoir dan kloset duduk dengan jumlah memadai, juga terdapat wastafel untuk mencuci tangan setelah selesai buang air.

Hal lain yang patut dikagumi dari pengelola Stadion Batakan adalah mereka secara aktif mengingatkan para penonton yang hadir untuk tidak merokok di tribun. Bukan hanya memberi peringatan melalui pengeras suara, namun pengelola stadion juga kerap mengingatkan sejumlah penonton yang membandel untuk tidak merokok di dalam tribun penonton.

Pendekatan itu cukup berhasil. Dari seluruh pertandingan Kejuaraan Sepak Bola Pelajar Asia, tidak ada satu orang pun merokok di dalam tribun.

Bahkan larangan merokok juga diterapkan di ruang siaran televisi (broadcast). Walhasil, sejumlah kru siaran langsung yang ingin merokok harus mencuri-curi waktu untuk dapat melakukan hobinya tersebut.

Selanjutnya masalah kepanitiaan

Oleh A Rauf Andar Adipati
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar