Rektor IPB: kolaborasi akan optimalkan hasil inovasi

Rektor IPB: kolaborasi akan optimalkan hasil inovasi

Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria (Antaranews/Riza Harahap)

Kami berharap, simposium ABEATS ini akan diadakan setiap tahun dengan mendorong kolaborasi antara universitas, praktisi, dan pemerintah di seluruh dunia, khususnya ASEAN,
Bogor (ANTARA) - Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria mengatakan era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan pengembangan industri berbasis teknologi digital, memerlukan kolaborasi untuk mengintegrasikan hasil inovasinya menjadi lebih optimal.

"Pada era revolusi industri 4.0 banyak teknologi berbasis digital yang berkembang, seperti, artificial intelligence, pengembangan robot, teknologi informasi, bioteknologi, big data," kata Arif Satria di Bogor, Selasa.

Menurut Arif Satria, dalam upaya kolaborasi dan mengintegrasikan hasil inovasi dari perkembangan teknologi digital, maka diperlukan konektivitas diantara negara-negara anggota ASEAN untuk mengintegrasikan kawasan ini ke dalam ekonomi global guna menciptakan pertumbuhan inklusif di era VUCA (volatility, uncertainly, complexity, and ambiguity).

Baca juga: Rachmawati Soekarnoputri: Masyarakat jangan terlena industri 4.0

Menurut Arif Satria, dalam konteks ini, Sekolah Bisnis (SB IPB), menyelenggarakan kegiatan konferensi internasional, "1st ASEAN Business Engineering & Technology Symposium (ABEATS) 2019" di Kota Bogor, Senin (2/12).

Konferensi internasional ini, menurut Arif, merupakan wadah pertemuan untuk menghubungkan dan memutakhirkan hasil-hasil penelitian mahasiswa, pakar, ilmuwan bisnis, maupun praktisi dan pemerintah di negara-negara Asia Tenggara.

Baca juga: Industri dituntut tingkatkan inovasi hadapi era 4.0

Sementara itu, Dekan SB IPB, Prof Dr Noer Azam Achsani, mengatakan, konferensi internasional pertama ABEATS 2019 ini dapat menjadi tonggak sejarah untuk berkolaborasi lebih baik di masa mendatang, diantara universitas di negara-negara ASEAN.

"Kami berharap, simposium ABEATS ini akan diadakan setiap tahun dengan mendorong kolaborasi antara universitas, praktisi, dan pemerintah di seluruh dunia, khususnya ASEAN, sehingga dapat membangun jaringan global dalam menyebarkan dan memutakhirkan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan," jelas Noer Azam.

Pada konferensi internasional pertama ini, SB IPB bekerja sama dengan Universiti Sains Malaysia, Universiti Teknologi Mara Malaysia, dan University of Glasgow.

Baca juga: Menristek: Kompetensi sektor konstruksi diperkuat hadapi industri 4.0

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar