Bursa Wall Street jatuh di tengah konflik perdagangan yang meluas

Bursa Wall Street jatuh di tengah konflik perdagangan yang meluas

Bursa saham Wall Street. ANTARA/Shutterstock/pri.

Indeks Dow Jones, bursa Wall Street, turun 280,23 poin atau 1,01 persen menjadi 27.502,81 poin
New York (ANTARA) - Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu pagi WIB), karena investor memantau perkembangan terbaru konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan mitra dagang utamanya, yang kian meluas.

Dikutip dari Xinhua, indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,23 poin atau 1,01 persen, menjadi ditutup di 27.502,81 poin.

Indeks S&P 500 berkurang 20,67 poin atau 0,66 persen, menjadi berakhir di 3.093,20 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 47,34 poin atau 0,55 persen, menjadi 8.520,64 poin.

Baca juga: Saham AS anjlok, harga emas berjangka melonjak

Sebagian besar dari 30 komponen saham unggulan Dow diperdagangkan di wilayah merah, dengan Intel mencatat kerugian terbesar 2,76 persen, memimpin penurunan (top loser) di antara saham-saham blue chips.

Sembilan dari 11 sektor S&P 500 utama diperdagangkan dengan catatan suram, dengan sektor energi kehilangan 1,55 persen, mengalami penurunan terbesar di antara sektor-sektor lainnya.

Penentu arah perdagangan di pasar, saham Caterpillar dan Boeing masing-masing merosot 2,03 persen dan 0,87 persen.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Senin (2/12/2019) bahwa ia akan "mengembalikan" tarif baja dan aluminium yang diimpor dari Brazil dan Argentina, menarik perhatian luas di dalam negeri dan luar negeri.

Menyebut langkah itu sebagai "tidak terduga," Menteri Produksi dan Tenaga Kerja Argentina Dante Sica mengatakan, "kami masih tidak tahu apa implikasinya. Kami ingin tahu detail dan ruang lingkup pengumuman."

Brazil Steel Institute, yang mewakili kepentingan eksportir baja, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tarif baru akan merugikan tidak hanya perusahaan Brazil, tetapi juga perusahaan baja AS, karena mereka akan membutuhkan produk setengah jadi yang diimpor dari Brazil.

Washington juga mengancam segera mengenakan tarif hingga 100 persen atas barang-barang Prancis senilai 2,4 miliar dolar AS. Alasannya karena negara itu telah memberlakukan tarif yang tinggi pada perusahaan teknologi AS, seperti Google, Apple, Facebook, dan Amazon.

Analis pasar telah memperingatkan bahwa ketahanan relatif dari ekuitas AS tidak akan bertahan lama sementara sikap proteksionis agresif negara itu kemungkinan tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Jonas Goltermann, ekonom senior di Capital Economics, mengatakan dalam sebuah catatan Selasa (3/12/2019) bahwa "sementara tarif baru yang diusulkan akan memiliki dampak ekonomi marjinal, dan efek keseluruhan pada pasar keuangan sejauh ini telah terbatas dibandingkan dengan episode terakhir peningkatan agresi perdagangan AS, mereka menyatakan bahwa Presiden Trump dapat berusaha untuk meningkatkan proteksionisme AS lebih lanjut dan memperluas serangkaian targetnya."

Dia menunjukkan bahwa membuka front perang dagang baru bisa terbukti lebih merusak ekuitas AS daripada konflik dengan China.

Perusahaan-perusahaan teknologi AS akan mengalami banyak kerugian jika Uni Eropa (UE) mengambil sikap lebih keras untuk mengenakan pajak pendapatan mereka di sana, kata Goltermann. Dia menambahkan bahwa bank investasi AS juga memiliki pangsa pasar yang signifikan di Eropa dan menyajikan target yang mudah bagi regulator UE.

Di sisi data, aktivitas manufaktur AS terus menurun pada November di tengah data persediaan dan pesanan baru yang lemah, menurut laporan terbaru Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis pada Senin (2/12/2019).

Menurut laporan itu, indeks pembelian manajer bulan lalu tercatat 48,1 persen, penurunan 0,2 poin persentase dari pembacaan Oktober, dan lebih rendah dari ekspektasi Wall Street.

Baca juga: Indeks FTSE-100 bursa saham Inggris berakhir melemah 1,75 persen
Baca juga: Bursa saham Jerman ditutup menguat, indeks DAX-30 naik 0,19 persen

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar