Kiat koleksi baju jadi ramah lingkungan

Kiat koleksi baju jadi ramah lingkungan

Ilustrasi baju organik (Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Tak diragukan lagu bahwa fesyen sangat berdampak terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Pada 15 tahun belakangan, produksi baju melonjak dua kali lipat berkat tren busana di toko ritel dengan alur produksi dan jangka waktu yang cepat (fast fashion).

Australia jadi negara kedua yang paling doyan belanja baju. Wanita Australia rata-rata bisa beli sampai 27 kilogram baju baru tiap tahunnya.

Harper's Bazaar melansir sejumlah kiat supaya koleksi baju kita di lemari menjadi lebih ramah lingkungan.

1. Cari tahu
Lakukan riset kecil-kecilan siapa yang membuat baju Anda, apakah baju dibuat dengan konsep "keberlanjutan"? Ketahuilah bahan baju Anda. Cari tahu dampak dari produksi bahan tersebut terhadap lingkungan. Apakah bahan itu bisa didaur ulang?

Secara garis besar, bahan baju dibagi jadi tiga: alami, sintetis dan semi-sintetis. Pilihlah bahan yang diproduksi dengan cara yang lebih ramah lingkungan misalnya pakai katun organik, pewarnaan dengan pewarna alami dan dikemas dengan material yang gampang didaur ulang.

2. Beli baju Vintage
Fast fashion sudah jelas beracun bagi lingkungan, studi terbaru menyebut bahwa emisi gas yang dihasilkan akibat produksi tekstil setara dengan 1,2 miliar ton tiap tahun (lebih dari yang dihasilkan oleh pesawat dan kapal laut bahkan jika keduanya digabung).

Anda bisa mencoba beli baju-baju vintage keluaran desainer yang dijual daring untuk mengurangi jejak karbon.

3. Rawat baju
Rawat baju dengan baik agar awet. Simpan dengan benar, jangan terpapar matahari dan lindungi dari jamur.

Jika ada baju yang rusak, tahan diri untuk beli lagi. Perbaiki saja atau jika memang sudah tak mau memakainya lagi sebaiknya dihibahkan alih-alih dibuang.

4. Pikir masak-masak sebelum beli
Kunci dari pakaian ramah lingkungan adalah berinvestasi pada baju yang memiliki umur panjang — baju yang dibuat dengan baik tak akan pernah mati gaya.

Menurut statistik, rata-rata wanita di Australia hanya memakai 33 persen dari keseluruhan koleksi bajunya dan membuang 23 kilogram baju lain setiap tahun.

Cobalah gerakan tantangan #Pakai30, maksudnya belilah baju yang sekiranya akan dipakai 30 kali lagi atau lebih. Jauhi tren dan pilih baju yang lebih awet dipakai.

5. Donasikan
Donasikan baju yang sudah tak dipakai. Lakukan aturan masuk satu baju keluar satu baju, yang mencegah Anda menambah baju baru tanpa memberikan baju lama.

Baca juga: Tren fesyen dekade ini, berani, inklusif, dan menuju "sustainable"

Baca juga: Tetap trendi dengan produk berkelanjutan yang ramah lingkungan

Baca juga: Sejarah singkat fesyen jas hujan dari masa ke masa

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menaker dorong BLK kembangkan pelatihan desainer fesyen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar