Hongkong (ANTARA News) - Pasar saham Asia ditutup, Rabu, mengakhiri tahun yang menyedihkan, sehubungan saham-saham Asia nilainya anjlok menjadi tinggal separuhnya, menyusul krisis finansial yang melanda seluruh dunia. Sekalipun sejumlah bursa menguat dalam beberapa hari terakhir, gambaran secara keseluruhan untuk 2008 sama buruknya dengan krisis ekonomi terburuk pada 1930-an, sehingga mengikis kepercayaan investor dan menekan harga saham. Pada penutupan perdagangan Rabu, bursa Hongkong dan Singapura telah kehilangan hampir separuh nilainya pada 2008, bursa Sydney terpangkas lebih dari 40 persen dan bursa Shanghai hampir dua pertiganya. Pasar saham Tokyo merosot 42,12 persen dan bursa Seoul anjlok 40,73 persen ketika kedua bursa menutup 2008 pada Selasa. Pasar saham terpukul oleh krisis ekonomi dunia, yang dipicu rontoknya kredit subprima, yakni pemberian kredit atau pinjaman kepada debitur (peminjam) yang tidak memenuhi persyaratan kredit untuk diberikan pinjaman berdasarkan suku bunga pasar karena memiliki skor kredit (credit score) yang kurang baik di AS. Hal ini menyebabkan raksasa hipotek AS, Freddie Mac dan Fannie Mae, terpaksa diambilalih oleh pemerintah pada September lalu. Namun demikian, pasar saham jatuh berputar-putar, menyusul kegagalan ikon perbankan Wall Street, Lehman Brothers, akibat memiliki utang setinggi gunung. Raksasa asuransi American International Group (AIG) kemudian harus diselamatkan oleh Washington. Paket penyelamatan senilai 700 miliar dolar untuk industri yang sakit-sakitan itu tak mampu menghentikan kebusukan tersebut dan pasar dunia mengalami rekor penurunan dan kenaikan saat mereka menuju dasar jurang. Di Wall Street, indeks Dow Jones juga mengalami pukulan dan pada penutupan perdagangan Selasa, indeks merosot 34,65 persen dari penutupan 2007. Peter Lai, direktur penjualan DBS Vickers, mengemukakan kepada AFP: "Kami belum mencapai dasar jurang. Yang terburuk akan muncul bila para investor mulai menjual saham mereka akibat dilanda kepanikan pada tahun depan. Di luar imajinasi Kekacauan finansial global mengakibatkan menguapnya hampir 600 miliar dolar dari pasar Australia pada 2008. Dengan Jepang juga mengalami resesi, tahun 2008 sebetulnya tak begitu buruk bagi para investor, ketika Nikkei, indeks terbesar Asia, terjun bebas akibat para eksportir mengalami kerugian menyusul menguatnya yen. "2008 merupakan tahun di luar bayangan kami," kata Kazuhiro Takaheshi, seorang analis pada Daiwa Securities SMBC. Bursa Singapura menutup 2008 dalam posisi anjlok 49,17 persen, sehubungan negara kota itu mengalami resesi, sedangkan China tak mampu mencegah bursa Shanghai merasakan dampak kemesorotan global dengan bursa itu terpangkas nilainya sebesar 65 persen. Saham Taipei menukik sebesar 46 persen. Kemerosotan pasar juga tercermin dengan anjloknya harga minyak. Minyak mentah menembus angka 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sebelum membumbung menjadi lebih dari 147 dolar pada Juli dan kemudian terjun bebas seiring dengan tenggelamnya perekonomian dunia dan menguapnya permintaan energi. Pasar lainnya di kawasan itu juga terpukul, dengan bursa Bangkok merosot 47,56 persen pada 2008, Manila 48,29 persen, sedangkan Kuala Lumpur kehilangan 39 persen dan Mumbai serta Jakarta lebih dari 50 persen. (*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2008