Riset: Loyalitas pengguna dompet digital tidak ditentukan "bakar uang"

Riset: Loyalitas pengguna dompet digital tidak ditentukan "bakar uang"

Business Development Advisor Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero (tengah), Research Director Customer Experience, lpsos Indonesia Olivia Samosir (kanan) dan Managing Director GoPay, Budi Gandasoebrata dalam diskusi bertajuk "Evolusi lndustri Dompet Digital: Strategi Menang Tanpa Bakar Uang" di Jakarta, Rabu (12/2/2020). ANTARA/ Zubi Mahrofi/aa.

animo masyarakat untuk menggunakan dompet digital akan tetap tinggi walaupun para pemain sudah tidak Iagi 'membakar uang'
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan riset Ipsos menilai loyalitas masyarakat, terutama generasi muda dalam menggunakan dompet digital tidak lagi ditentukan oleh promosi besar-besaran atau "bakar uang".

"lpsos menemukan bahwa 71 persen dari generasi muda termotivasi untuk menggunakan dompet digital pertama kalinya karena adanya promo. Namun, seiring berjalan waktu mereka terbiasa dengan kenyamanan yang ditawarkan dompet digital, loyalitas mereka tidak lagi ditentukan semata-mata oleh promo," ujar Research Director Customer Experience, lpsos Indonesia Olivia Samosir di Jakarta, Rabu.

Ia mengemukakan sebanyak 500 responden di lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Palembang, dan Manado, menunjukkan beberapa aspek yang diinginkan oleh konsumen dari dompet digital adalah kenyamanan sebesar 68 persen, promosi (23 persen), dan keamanan (9 persen).

Baca juga: Go-Pay punya pengguna organik terbanyak di Indonesia

Ia menambahkan loyalitas konsumen untuk tetap menggunakan dompet digital tanpa promo juga tergantung pada kualitas Iayanan.

"Berdasarkan penelitian Ipsos, terdapat empat pemain utama di industri dompet digital Indonesia, yaitu GoPay, Ovo, Dana, dan LinkAja," papar Olivia dalam diskusi bertajuk "Evolusi lndustri Dompet Digital: Strategi Menang Tanpa Bakar Uang".

Hasil penelitian menyatakan GoPay mempunyai pengguna organik tertinggi, karena konsumen menilai GoPay paling unggul dalam aspek keamanan (76 persen), kepraktisan (77 persen), inovasi (72 persen), layanan pelanggan (73 persen), serta dapat diterima di mana-mana (76 persen).

Baca juga: Menyimpan uang di dompet digital, amankah?

Dalam kesempatan itu, Business Development Advisor Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero mengatakan saat ini merupakan waktu untuk para penyelenggara dompet digital untuk beralih dari pola pikir "grow at all cost" ke pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan jika ingin terus hadir melayani konsumen.

"Merujuk pada potensi yang luas di transaksi mikro di sektor keuangan dan manfaat yang telah dirasakan, maka animo masyarakat untuk menggunakan dompet digital akan tetap tinggi walaupun para pemain sudah tidak Iagi 'membakar uang'. Yang terpenting adalah para pemain meningkatkan faktor keamanan dan kenyamanan layanannya bagi para pengguna," katanya.

Baca juga: Usaha rintisan disarankan perkuat modal sosial bukan "bakar uang"

Sementara itu, Managing Director GoPay, Budi Gandasoebrata mengatakan bahwa GoPay senantiasa mengembangkan layanan berkualitas dan customer experience yang aman, mudah, dan praktis, namun sambil tetap membuat program promo yang strategis dan tepat sasaran sesuai segmen konsumen yang membutuhkan.

"Salah satu keunggulan GoPay adalah kami sangat cermat, dan strategis dalam mengkombinasikan strategi promosi dengan strategi perluasan fungsi sebagai alat pembayaran berbagai transaksi sehari-hari konsumen. Kombinasi dua strategi itulah yang membuat pengguna tetap menggunakan GoPay meskipun tanpa promo," katanya.

Baca juga: Tak kuat bakar uang, Bos Lippo jual dua pertiga saham OVO
 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar