MRT Jakarta ungkap alasan Stasiun Sarinah berganti nama

MRT Jakarta ungkap alasan Stasiun Sarinah berganti nama

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) berbincang dengan Direktur Utama MRT Jakarta, William Sabandar (kedua kiri) dan Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim (kiri) usai penandatanganan kerja sama (MOU) proyek pembangunan MRT fase 2A dan lingkup kerja CP201 di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (17/2/2020). CP201 melingkupi pekerjaan pembangunan dua stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas dengan panjang terowongan 2,8 km dari HI ke Harmoni yang ditargetkan selesai pada Desember 2024. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Seharusnya nama stasiun itu sarat dengan lokalitas, bisa dengan nama jalan atau nama daerah
Jakarta (ANTARA) - PT MRT Jakarta (Perseroda) menjelaskan alasan penggantian nama stasiun yang semula Stasiun Sarinah menjadi Stasiun Thamrin, yang berada di antara Stasiun Monas dan Stasiun Bundaran HI.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim usai penandatanganan kontrak konstruksi Fase 2A paket pertama, yakni dari Bundaran HI hingga Harmoni (CP201) dengan konsorsium Shimizu dan PT Adhi Karya di Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Senin, menjelaskan dasar penamaan stasiun adalah yang mengandung unsur lokal, baik nama jalan maupun nama daerah.

"Seharusnya nama stasiun itu sarat dengan lokalitas, bisa dengan nama jalan atau nama daerah, sedangkan Sarinah adalah nama perusahaan. Itu enggak tepat untuk dipakai. Kenapa dulu dipakai, karena lebih memudahkan saja," katanya.

Selain itu, lanjut dia, dari segi lokasi juga stasiun MRT di Fase 2 ini nantinya tidak akan persis dibangun di depan pusat perbelanjaan Sarinah, seperti yang terjadi pada halte Bus Transjakarta, tetapi di perempatan Kebon Sirih dan Jalan Thamrin.

"Kedua, lokasi bukan di Sarinah juga, sekarang di perempatan Kebon Sirih dengan Thamrin," katanya.

Penggantian nama stasiun itu, sebut Silvia, sudah sejak satu bulan yang lalu.

Baca juga: Dirut: Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A tak ganggu mobilitas publik

Selain itu Silvi mengatakan pembangunan Fase 2A ini juga nantinya akan langsung dirancang untuk terintegrasi dengan halte Bus Transjakarta. Bahkan, untuk Halte Monas, Stasiun MRT akan masuk ke dalam Kawasan Monas di sisi Tenggara.

Fase 2A dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur enam kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.

Pembangunan fase 2A dibagi ke dalam tiga paket kontrak sipil, terdiri dari paket kontrak CP 201, CP 202 dan CP 203. Periode konstruksi Fase 2A akan dimulai pada Maret 2020 dan direncanakan selesai pada Desember 2024.


Baca juga: Kondisi lintasan menantang, MRT Fase 2A rampung 2024

Baca juga: MRT Jakarta-Adhi Karya tandatangan kontrak pembangunan MRT Fase 2A




 

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

​​​​​​​Integrasi antar moda transportasi untuk efisiensi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar