Seorang WNI sesak nafas dirawat di RSP Rotinsulu Bandung

Seorang WNI sesak nafas dirawat di RSP Rotinsulu Bandung

Rumah Sakit Paru (RSP) Rotinsulu Bandung. (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Bandung (ANTARA) - Rumah Sakit Paru (RSP) Rotinsulu Bandung menyatakan tengah merawat dengan mengisolasi seorang warga negara Indonesia (WNI) yang menunjukkan gejala demam, batuk, dan penyakit pernafasan.

Direktur Utama RSP Rotinsulu, dr Edi Sampurno, Selasa, mengatakan seorang WNI itu dirawat sejak Senin (2/3) malam. Seorang pasien yang berusia dewasa itu, kata Edi, memiliki riwayat berpergian ke luar negeri untuk melakukan ibadah umrah.

"Pulang dari umrah, kan di sana (Arab Saudi) sudah ada yang positif mungkin, yah, jadi bisa saja berpotensi," kata Edi di Bandung.

Dia menjelaskan pasien tersebut saat diterima menunjukan gejala demam, batuk, dan penyakit pernafasan. Maka dari itu, pasien tersebut langsung dirawat dengan dimasukkan ke ruangan isolasi di RSP Rotinsulu.

Baca juga: Tim Forensik: Maulana punya riwayat sesak nafas

Baca juga: Calhaj asal Tidore Kepulauan wafat di Tanah Suci akibat sesak nafas

Baca juga: Mudah lelah hingga sesak nafas bisa jadi tanda gagal jantung


"Ada gejala yang mirip Covid-19, demam batuk, (penyakit) pernafasan. Pasien itu rujukan dari Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih Bandung," kata dia.

Sesuai dengan ketentuan, RSP akan melakukan pengawasan terhadap pasien tersebut hingga 14 hari ke depan. Dia berharap agar kondisi pasien tersebut bisa semakin membaik.

Sebelumnya, RSP sejak Februari juga telah merawat dua pasien lainnya yang diduga terpapar Covid-19. Namun, dua pasien itu dinyatakan negatif dan dipulangkan.

"Total kami sudah menerima tiga pasien, dua dipulangkan, ini satu baru datang," katanya.

Sementara itu, Wakil ketua tim penanganan infeksi khusus Corona RSP Rotinsulu Bandung dr Dijah Rochmad mengatakan hasil laboratorium pasien tersebut akan keluar dalam dua hari mendatang setelah sampel-nya dikirimkan ke Litbangkes Kemenkes.

"Kalau biasanya satu atau dua hari, nanti pasti kami sampaikan dan informasikan," kata Dijah.*

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Terjadi tren penurunan zona merah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar