Pangkalpinang (ANTARA News) - Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Didin Hafidhuddin menyatakan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp19 triliun per tahun, namun yang berhasil dikumpulkan baru Rp900 miliar pada 2008.

"Potensi tersebut belum sebanding dengan zakat yang terkumpul dari seluruh Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) seluruh Indonesia yang pada 2008 hanya sebesar Rp900 miliar setahun," katanya usai acara sosialisasi zakat di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Senin.

Menurut dia, masih terjadi kesenjangan antara potensi dengan aktualisasi pengumpulan zakat di Indonesia sehingga diperlukan kerja keras Bazda di seluruh Indonesia untuk mengoptimalkan pengumpulan zakat itu.

"Jumlah pengumpulan zakat Indonesia cukup minim, tidak sebanding dengan potensi yang ada, padahal potensi zakat itu cukup strategis dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat," katanya sembari menyebut sasaran zakat potensial adalah lembaga pemerintahan dan swasta

Menurutnya, sejak 2006 hingga sekarang angka pengumpulan zakat cenderung naik walaupun masih jauh dari potensi zakat nasional.

"Pada 2006 pengumpulan zakat secara nasional mencapai Rp300 miliar,tahun 2007 meningkat mencapai Rp700 miliar dan pada 2008 naik menjadi 900 miiar. Grafiknya menunjukkan kenaikkan, namun tetap saja tidak sebanding dengan potensi zakat yang mencapai Rp19 triliun per tahun," katanya.

Ia menargetkan,pengumpulan zakat pada 2009 mencapai di atas Rp1 triliun. Namun untuk mewujudkan hal itu perlu kerja keras Bazda dalam mengoptimalisasikan pengumpulan zakat.

"Semua Bazda di Indonesia harus melakukan langkah-langkah starategis untuk meningkatkan jumlah pengumpulan zakat di Indonesia,"ujarnya.

Menurut dia,masih minimnya aktualisasi atau pengumpulan zakat disebabkan berbagai hal di antaranya adalah kurangnya sosialisasi mengenai peran Bazda itu sendiri.

Bazda di seluruh Indonesia harus menjalankan empat langkah untuk mengoptimalisasikan pengumpulan zakat, yaitu sosialisasi secara berkelanjutan, penguatan amil zakat, pendayagunaan tepat sasaran dan bersinergi antara Bazda dengan stake holder yang ada.

Empat langkah tersebut, kata dia, cukup strategis untuk meningkatkan jumlah zakat yang terkumpul jika dijalankan secara optimal.

"Penguatan lembaga amil zakat sangat penting, agar transparan dalam menyalurkan dana zakat sehingga dipercaya publik," katanya.

Menurut dia, dana zakat itu harus tepat sasaran, jangan habis disalurkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga digunakan untuk usaha produktif seperti pemberian beasiswa dan modal kerja.

"Dengan demikian, dana zakat memegang peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dan menekan angka kemiskinan di negeri ini,"katanya.

Selain itu, kata dia, diperlukan sinergitas bersama stake holder dalam memanfaatkan potensi zakat agar tercipta kesadaran bersama bahwa zakat itu bukan milik Baznas, tetapi milik masyarakat.

"Jika potensi zakat ini bisa dikelola dengan baik, maka masyarakat luas yang akan merasakan manfaatnya," katanya.

Ia mengatakan, pada 2009 diyakini akan terjadi lonjakan jumlah para mustahik (pembayar zakat) karena pemerintah sudah memiliki kepedulian yang cukup tinggi.

"Demikian juga para alim ulama juga memiliki kepedulain yang tinggi dan kesadaran bersama bahwa zakat itu salah satu alternatif dana yang dibutuhkan untuk membangun perekonomian masyarakat," katanya.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009