Banyumas (ANTARA News) - Ribuan orang tampak berjejal di antara para pedagang asongan yang sengaja berdagang di lingkungan RT 03 RW 06 Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Tujuan kedatangan mereka hanya satu yakni untuk menyaksikan ritual tahunan berupa tradisi jamasan (pencucian, red.) pusaka peninggalan Sultan Amangkurat I atau yang dikenal dengan "Jamasan Jimat Kalisalak".

Konon, banyak keanehan yang muncul dalam ritual yang digelar setiap Perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal atau bulan Maulud, yang terlihat dari perubahan bentuk, jumlah, penampilan, maupun munculnya benda-benda baru dari peninggalan Sultan Amangkurat I.

Dalam Wikipedia disebutkan Amangkurat I adalah sultan Mataram yang bertahta pada tahun 1646 sampai dengan 1677. Ia adalah anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Raden Ayu Wetan (Kanjeng Ratu Kulon), seorang keturunan Ki Juru Martani yang merupakan saudara dari Ki Ageng Pemanahan.

Sosok yang memiliki nama kecil Mas Sayidin, yang ketika menjadi putera mahkota diganti dengan gelar Pangeran Arya Mataram atau Pangeran Ario Prabu Adi Mataram tersebut berusaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram, akan tetapi terus-menerus mengalami pemberontakan.

Mengenai keberadaan pusaka-pusaka peninggalan Amangkurat I di Kalisalak, karena raja Mataram ini sempat singgah di sana saat menuju Batavia (Jakarta) untuk meminta bantuan VOC lantaran dikejar pasukan Trunojoyo yang memberontak sekitar tahun 1676-1677.

Dalam hal ini, saat hendak melanjutkan perjalanannya menuju Batavia, Amangkurat I meninggalkan sejumlah benda atau barang pusaka untuk meringankan beban.

Beberapa benda yang ditinggalkan dan hingga kini masih tersimpan di sebuah bangunan yang dikenal dengan "Langgar Jimat Kalisalak" antara lain berupa kitab-kitab bertuliskan huruf Jawa Kuno, Arab, dan Cina yang terbuat dari daun lontar dan "asus buntut" (bagian pelana kuda yang masuk ke ekor).

Selanjutnya, benda-benda peninggalan tersebut dijamas dan dihitung jumlahnya setiap bulan Maulud oleh kerabat Amangkurat I yang ada di Desa Kalisalak.

"Penjamasan kita lakukan setiap 12 Maulud yang berdasarkan perhitungan Jawa `Aboge` (tanggal 1 tahun Alif jatuh pada hari Rabu Wage, red.) tahun ini merupakan tahun `Je` sehingga tanggal tersebut jatuh hari ini, Selasa Pahing (10/3)," kata Bachtiar, salah satu kerabat Amangkurat I.

Sementara juru kunci "Langgar Jimat Kalisalak" San Muraji mengatakan, ritual ini tidak sekadar mencuci benda keramat tetapi juga membaca tanda zaman.

San Muraji yang berusia 78 tahun ini merupakan keturunan ke-14 dari para juru kunci "Langgar Jimat Kalisalak".

Lelaki tua ini tampak memimpin prosesi jamasan yang dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka tersebut dari penyimpanannya untuk diletakkan di atas tempat penjamasan berupa panggung setinggi 1,5 meter yang berada di depan langgar.

Setelah jimat yang terdiri 70 tersebut dikeluarkan, sang juru kunci pun bersama 12 orang kerabat Amangkurat, segera membuka kain mori kusam yang membungkus pusaka sebelum dicuci menggunakan air jeruk bayi.

Mereka tampak menghitung jumlah jimat yang ada dan disesuaikan dengan kondisi saat penjamasan tahun sebelumnya setelah setahun tidak pernah dikeluarkan dan dibuka.

Beberapa keanehan pun muncul saat jimat-jimat tersebut dihitung dan diamati lantaran ada beberapa jimat yang berubah bentuk maupun tampilannya serta jumlah bertambah.

Salah satu benda yang berubah bentuk yakni "pelor" (peluru). Saat penjamasan 2008 berbentuk "bulat", sekarang menjadi "lonjong".

Selain itu tempat benda-benda tersebut yang dikenal dengan sebutan "piti", dalam jamasan kali ini tampak lebih" baru". Bahkan, ada satu "piti" yang anyaman bambunya lebih" besar" padahal belum pernah diganti.

Benda lainnya yang berubah tampilan yakni "wungkal" (pengasah pisau) yang sebelumnya tampak kusam, kini menjadi berkilau.

Sementara mata uang kuno yang semula berjumlah 58 keping dan diikat, kini hanya 49 keping tanpa ada yang terikat.

Alat musik terbang (semacam ketipung) yang semula terdiri empat berukuran besar dan enam kecil, kini yang berukuran besar maupun kecil masing-masing berjumlah lima buah.

Kumpulan kitab bertuliskan huruf Arab yang semula ada empat buah, kini jumlahnya menjadi tujuh buah dan salah satunya dalam keadaan kosong tanpa tulisan.

Pemuka agama setempat, H Abdul Wahab tampak membacakan kitab tersebut yang salah satunya berupa kutipan Alquran Surat Al Ahdiyat dan sebuah hadist Nabi Muhammad SAW.

Namun saat hendak menerjemahkan hadist tersebut, dia tampak tak sanggup lagi melanjutkan pembacaannya. Padahal dia sering kali membacakan kitab-kitab tersebut setiap kali jamasan.

Sementara itu, petugas dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Suyami membacakan tiga keropak daun lontar bertuliskan huruf Jawa yang dipilihkan juru kunci dari beberapa keropak yang tulisannya dapat terbaca.

Dalam setiap jamasan, keropak daun lontar yang dapat terbaca tulisannya selalu muncul bergantian, sehingga belum tentu keropak yang kali ini terbaca dengan jelas dapat dibaca saat penjamasan berikutnya.

Menurut Suyami, satu di antara tiga keropak daun lontar tersebut ditulis pada masa yang berbeda, yakni pada masa perkembangan bahasa Jawa tengahan (pertengahan), tetapi isinya berkesinambungan.

"Tiga tulisan tersebut mempunyai makna yang saling berhubungan. Lontar pertama menceritakan tentang kejadian besar yang akan terjadi di negeri ini," katanya.

Dalam lontar kedua, kata dia, disebutkan bahwa Tuhan sedang mempersiapkan skenario besar terhadap bangsa ini yang kedatangannya tidak diketahui, sedangkan lontar ketiga sebagai peringatan terhadap penguasa yang sudah tidak peduli lagi kepada rakyatnya.

Meramal Bangsa

Perubahan bentuk maupun tampilan serta bertambahnya jumlah jimat tersebut, oleh sebagian orang diyakini sebagai perlambang atau ramalan terhadap nasib bangsa dalam satu tahun ke depan.

Kepala Desa Kalisalak, Bambang Setiadi mengatakan, jamasan kali ini ada yang berbeda dengan jamasan tahun 2004 lalu saat menjelang pemilihan langsung presiden.

Menurut dia, saat jamasan 2004 lalu, semua "piti" atau tempat benda pusaka tersebut tampak seperti baru, sedangkan kali ini "piti" yang paling besar terlihat baru meski sudah lama.

"Mungkin artinya, presiden lama dengan pasangan baru. Siapa saja boleh punya tafsir sendiri," katanya.

Sementara uang kuno yang berjumlah 58 keping dan terikat saat jamasan 2008, kata dia, saat ini berjumlah 49 keping tanpa ikatan.

Menurut dia, hal itu menandakan perekonomian bangsa Indonesia masih dalam kesulitan.

Hal tersebut juga diakui seorang warga Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Slamet yang rutin mengikuti ritual jamasan untuk sekadar melihat "keanehan "yang muncul.

"Dalam jamasan tahun 2008, mata uang Belanda yang tersimpan dalam `langgar` ternyata `menghilang` sedangkan mata uang lainnya tampak `kusam`. Padahal saat jamasan 2007, tampak `berkilau`," katanya.

Menurut Slamet, setelah dikaitkan dengan kondisi saat ini, ternyata" keanehan "yang muncul saat itu sebagai perlambang terjadinya krisis finansial global.

Ia mengatakan, "keanehan-keanehan" lain sering kali muncul dalam jamasan tahun-tahun sebelumnya dan sering kali berkaitan dengan sesuatu peristiwa yang terjadi pada tahun berikutnya.

Ketua Panitia Jamasan Langgar Jimat Kalisalak, Ilham Triyono mengatakan, biasanya terlihat dari jumlah maupun tampilan dari benda pusaka yang dijamas.

"Pada tahun 1976 terdapat 73 jenis jimat, tahun 2005 menjadi 74 jenis karena kemunculan keropak bertuliskan huruf Jawa. Namun pada tahun 2006, kembali menjadi 73 jenis karena keropak tersebut menghilang dan tahun 2007 jumlahnya 74 jenis lagi karena munculnya sebuah batu granit," katanya.

Dia mempersilakan masyarakat untuk menafsirkan sendiri-sendiri mengenai keanehan yang muncul dalam jamasan tersebut.

Setelah penjamasan selesai, seluruh benda pusaka tersebut dimasukkan ke dalam kain mori yang baru dan selanjutnya ditaruh di dalam langgar untuk kembali saat jamasan tahun depan.

Saat ini masyarakat setempat hanya bisa menafsirkan makna dari keanehan yang muncul dalam penjamasan tersebut terhadap kemungkinan yang bakal terjadi pada bangsa ini sembari menunggu jamasan tahun mendatang. (*)

Oleh Oleh Sumarwoto
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009