Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, M Rodly Khaelani, di Jakarta, Senin, menilai Pemilu 2009 ini sangat mengkhawatirkan, terkait banyak indikasi masalah yang berpotensi memicu munculnya aneka persoalan.

"Untuk itulah, Pengurus Besar (PB) PMII mengeluarkan instruksi nasional ke seluruh sekretariat cabang, agar menyediakan Posko Advokasi Masyarakat Marginal dalam Pemilu," katanya kepada ANTARA.

Ia mengatakan itu, sehubungan dengan dikeluarkannya lima sikap politik PB PMII terhadap Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 ini.

Selanjutnya, Rodli Khaelani merinci lima sikap politik tersebut.

Pertama, berkaitan dengan politik kebangsaan, yang harus didorong menuju pada adanya konsesus nasiional tentang kemandirian bangsa.

Kedua, menyangkut politik kenegaraan, yang memang perlu untuk melakukan penataan konstitusi sebagaimana visi Indonesia dan para `the founding fathers` sebagai arah menuju cita-cita bangsa.

Ketiga, adanya politik kebijakan, dengan mengecam `perampokan` aset negara untuk kepentingan elite maupun kelompok tertentu.

"Di sini intinya menyangkut kebijakan yang tidak berpihak dan tak menyejahterahkan rakyat, tetapi lebih mengabdi kepada kepentingan pemilik modal atau kaum kapitalis," tandasnya.

Keempat, menyangkut politik keseharian atau momentum. "Yakni, terkait dengan penyelenggaraan Pemilu kali ini, maka demi wibawa (bersama), bahwa Pemilu itu sebagai agenda rakyat, kita semua harus sepakat menegaskan menolak berbagai praktik `money politics`, primordialisme dan feodalisme oligarki elite," tegasnya.

Artinya, demikian Rodli Khaelani, kita harus menolak setiap upaya (elite) yang hanya menjadikan rakyat sebagai objek politik Pemilu.

"Sementara sikap politik kelima, yaitu, PB PMII menginstruksikan ke seluruh kader maupun massanya di Indonesia, agar melakukan aksi nasional Pemilu sebagai agenda rakyat bukan agenda kalangan elite atau Parpol," ujarnya.

Dalam hal ini, menurutnya, PB PMII menginstruksikan pula pendirian Posko di semua cabang.

"Atau sekretariat cabang saja yang dijadikan Posko. Yakni Posko Advokasi Masyarakat Marginal dalam Pemilu untuk memperkuat kontrak politik rayat terhadap para elite itu, sekaligus mengamankan situasi yang mengkhawatirkan ini," ungkap Rodli Khaelani lagi.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009