Jakarta (ANTARA News) - Beberapa peneliti Kanada berhasil membongkar operasi mata-mata elektronik yang menyusup ke dalam komputer dan mencuri dokumen dari kantor pemerintah serta swasta di seluruh dunia, termasuk dokumen milik Dalai Lama.

Dalam laporan kepada surat kabar, satu tim dari Munk Center for International Studies di Toronto menyatakan sedikitnya 1.295 komputer di 103 negara telah diretas dalam waktu kurang dari dua tahun oleh sistem mata-mata --yang disebutnya GhostNet.

Kedutaan besar, kementerian luar negeri, kantor pemerintah dan pusat pengasingan pemimpin Tibet, Dalai Lama, di India, Brussels, London dan New York termasuk di antara komputer yang diterobos, kata para peneliti tersebut, yang telah mendeteksi kegiatan mata-mata komputer pada waktu lalu, sebagaimana dilaporkan New York Times, Sabtu (28/3).

Mereka tak mendapati bukti bahwa kantor pemerintah AS ditembus, kata kantor berita Inggris, Reuters.

Para peneliti tersebut menyimpulkan komputer yang secara eksklusif berpusat di China "bertanggung jawab atas penerobosan itu", meskipun mereka tak sampai mengatakan pemerintah China terlibat dalam sistem tersebut, yang mereka gambarkan sebagai tetap aktif.

"Kami mesti lebih berhati-hati mengenai itu, karena mengetahui nuansa dari apa yang terjadi di dunia bawah tanah," kata Ronald Deibert, anggota kelompok penelitian Munk, yang berkantor pusat di University of Toronto.

"Ini bisa jadi adalah CIA atau Rusia. Itu adalah dunia yang suram yang kami buka sumbatnya," katanya.

Jurubicara bagi Konsulat China di New York membantah gagasan bahwa China terlibat. "Ini adalah cerita usang dan itu semua omong kosong," kata jurubicara itu, Wenqi Gao, kepada New York Times. "Pemerintah China menentang dan sepenuhnya melarang setiap kejahatan maya."

Para peneliti Toronto tersebut memulai penelitian mereka mengenai kegiatan mata-mata itu setelah satu permintaan dari kantor pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama, untuk meneliti komputernya guna mengenai adanya perangkat lunak yang tidak lumrah, atau malware.

Jaringan tersebut, yang mereka temukan, memiliki kemampuan "ala Saudara Tua", sehingga memungkinkannya, antara lain, menghidupkan kamera dan fungsi perekam otomatis di komputer yang disusupi sehingga memungkinkan pelakunya memantau keadaan di dalam ruangan yang dituju, kata laporan itu.

Sistem tersebut dipusatkan pada pemerintah di negara Asia Selatan dan Asia Tenggara serta di kantor Dalai Lama, kata para peneliti itu. Mereka menambahkan semua komputer di Kedutaan Besar India di Washington juga disusupi dan satu komputer NATO dipantau.

Laporan tersebut direncanakan disiarkan di dalam Information Warfare Monitor, terbitan online yang memiliki hubungan dengan Munk Center.

Pada saat yang sama, dua peneliti komputer di Cambridge University di Inggris yang mengerjakan sebagian penyelidikan yang berkaitan dengan kantor di Tibet mengeluarkan laporan terpisah, kata New York Times.

Mereka benar-benar menyalahkan China dan memperingatkan bahwa peretas lain dapat melakukan taktik serupa, kata surat kabar itu.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009