Penderita penyakit kronis akibat rokok berbahaya terkena COVID-19

Penderita penyakit kronis akibat rokok berbahaya terkena COVID-19

Ilustrasi rokok (ANTARA FOTO)

Jakarta (ANTARA) - Penderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, asma, TBC, serta penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) akibat merokok paling berbahaya jika terkena dampak dari infeksi virus corona baru COVID-19.

Komite Ahli Tuberkulosis dr. Pandu Riono, MPH, PhD mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa orang yang sudah memiliki penyakit kronis mempunyai daya tahan tubuh yang tidak optimal sehingga sangat rentan terhadap serangan virus COVID-19.

Dia menjelaskan pasien COVID-19 dengan penyakit kronis bisa memiliki gejala yang lebih berat dan paling parahnya berakhir pada kematian.

Baca juga: WHO ingatkan jaga kesehatan mental, kurangi rokok saat krisis COVID-19

Namun Pandu menekankan agar tidak terpaku pada angka persentase kematian setiap kasus COVID-19 di Indonesia yang mencapai delapan persen. Per hari ini, kasus positif COVID-19 di Indonesia berjumlah 686 orang dengan 55 kematian.

Menurut Pandu, data kasus positif COVID-19 di Indonesia tidak merefleksikan data yang nyata di lapangan karena keterbatasan orang yang dilakukan tes laboratorium.

"Yang diestimasi orang yang sudah terinfeksi di luar banyak sekali bukan ratusan, puluhan ribu. Dalam waktu mendatang itu diperkirakan sudah ratusan ribu," kata dia.

Hal itulah, menurut dia, yang menunjukkan kasus kematian COVID-19 di Indonesia menjadi terlihat besar yang bahkan lebih tinggi dari kasus kematian dari negara asalnya di China sekitar tiga persen hingga empat persen.

Oleh karena itu, dia mendorong untuk dilakukan tes cepat pada masyarakat yang lebih banyak, yaitu pada kelompok orang yang berisiko terpapar COVID-19.

Baca juga: Peneliti: Pengurangan risiko alternatif berhenti merokok

Namun, menurut Pandu, yang merupakan ahli epidemiologi bidang penyakit menular di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut tes cepat dengan menggunakan alat berbasis reaksi antibodi yang dilakukan pemerintah memiliki kelemahan.

Kelemahan tersebut adalah reaksi antibodi yang lambat untuk mendeteksi adanya virus di tubuh seseorang selama enam hingga tujuh hari setelah infeksi.

Pandu mendorong agar pemeriksaan melalui metode Polymerase chain reaction (PCR) di laboratorium dapat lebih ditingkatkan kapasitasnya untuk mendukung tes cepat.

Pandu menegaskan bahwa pemerintah harus bekerja secara aktif dengan cepat menemukan kasus baru dan kemudian mengisolasinya untuk memutus rantai penularan. Pasien positif COVID-19 dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, TBC, dan lainnya harus dirawat di rumah sakit, sementara yang memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala bisa dirawat di tempat lain atau bahkan di rumah.

Dia mengatakan saat ini paling banyak petugas medis yang terinfeksi dan bahkan meninggal saat menjalankan tugasnya merawat pasien COVID-19 yang terus bertambah. Pandu menegaskan bahwa pemerintah harus melakukan tindakan cepat berkejaran dengan waktu dan kecepatan virus menyebar.

Baca juga: Berbagi rokok, beberapa teman di Thailand tertular corona

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kata epidemiolog soal tingginya positivity rate dan libur bersama

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar