Kematian akibat COVID-19 di rumah tidak terlaporkan di New York

Kematian akibat COVID-19 di rumah tidak terlaporkan di New York

Sebuah spanduk imbauan untuk melakukan social distancing terpasang di pagar Taman Hamilton di pinggir Sungai Hudson dengan latar belakang gedung-gedung bertingkat Kota New York di Manhattan. ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar/wsj.

Ini tidak pernah berakhir ...Dan semakin buruk setiap hari
New York (ANTARA) - Penghitungan harian penduduk New York City yang meninggal di rumah dengan gejala mirip virus corona meningkat dari 45 pada 20 Maret hingga 241 pada 5 April, menurut data Departemen Pemadam Kebakaran New York - yang menunjukkan penghitungan kota itu atas korban COVID-19 mungkin secara signifikan jauh lebih rendah dari data sesungguhnya.

Ditanya tentang data departemen pemadam kebakaran itu pada konferensi pers Selasa, Walikota New York City Bill de Blasio mengakui bahwa kematian di rumah belum sepenuhnya dihitung.

"Benar untuk berasumsi bahwa sebagian besar terkait dengan virus corona, "katanya.

"Dan itu membuat kita semakin sadar dalam arti berapa banyak orang yang kita yang meninggal dunia, berapa banyak keluarga yang menderita, seberapa nyata krisis ini."

Data pemadam kebakaran didasarkan pada informasi yang dikumpulkan selama panggilan darurat yang melibatkan berhentinya jantung atau pernapasan, disertai demam dan batuk. Itu adalah gejala khas dari kasus parah COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona.

Meskipun gejala-gejala itu juga bisa cocok dengan penyakit seperti influenza, kenaikan yang tajam ini bertepatan dengan lonjakan kasus COVID-19 di New York City, pusat epidemi virus corona Amerika Serikat.

Data itu menimbulkan pertanyaan tentang penghitungan resmi kota yang menunjukkan jumlah kematian akibat virus corona telah datar dalam beberapa hari terakhir (sebelum naik lagi Selasa).

Hitungan kematian harian resmi relatif tetap, mulai dari 309 pada 31 Maret hingga 290 April 5, menurut situs departemen kesehatan. Selama periode yang sama, menurut data pemadam kebakaran, jumlah kematian setiap hari di rumah di antara orang-orang dengan gejala COVID-19 meningkat dari 167 menjadi 241 orang.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan dan Kesehatan Mental kota, yang mengesahkan temuan tentang penyebab kematian, mengatakan jumlah kematian resmi hanya mencakup mereka yang menjalani tes yang mengkonfirmasi mereka terinfeksi virus.

Juru bicara itu tidak tahu seberapa banyak orang yang meninggal di rumah yang telah diuji virus corona tetapi mengatakan departemen dan Kantor Kepala Pemeriksa Medis kota sedang bekerja untuk menghitung kasus-kasus di mana korban tidak melakukan tes.

Pemadam kebakaran tidak mengomentari datanya, yang pertama kali dilaporkan di situs gothamist.com.

Menurut data, total 2.192 kematian di rumah dilaporkan dari 20 Maret hingga 5 April. Angka kematian kota pada hari itu, termasuk ratusan kematian di antara hampir 16.000 yang dirawat di rumah sakit karena penyakit itu, adalah sekitar 2.500. Sekarang melebihi 3.200.

Panggilan darurat selama wabah corona di New York telah membanjiri responden darurat 911, menurut data.

Antara 20 Maret dan 5 April, jumlah kasus serupa COVID-19, termasuk pasien yang selamat, tiga kali lipat, dari 94 menjadi 322, menurut data pemadam kebakaran.

Persentase panggilan di mana paramedis tidak dapat menyelamatkan orang naik dari 48% menjadi 75%.

"Ini tidak pernah berakhir," kata seorang letnan paramedis pemadam kebakaran yang meminta untuk tidak diidentifikasi. "Dan semakin buruk setiap hari."

Sebelum wabah virus corona, menurut dia, lima unit rata-rata menerima 10 hingga 20 hari telepon yang mengakibatkan kematian.

Sumber: Reuters

Baca juga: Ekuador bangun pemakaman darurat selama pandemi corona

Baca juga: Putra Anna Wintour sakit setelah merawat pasien corona

Penerjemah: Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mengantar UMKM NTB ke ajang pameran dagang di Amerika Utara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar