Artikel

Perjuangan para kartini di Jember menangani pasien COVID-19

Oleh Zumrotun Solichah

Perjuangan para kartini di Jember menangani pasien COVID-19

Dokter sekaligus Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Jember Klinik dr Dian Suminar Pertiwi (tengah) bersama paramedis di RS Jember Klinik. ANTARA/HO-dr Dian Suminar Pertiwi/pri.

Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Dokter dan paramedis menjadi garda terdepan dalam penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan sebagai garda terdepan, tenaga medis memiliki risiko paling tinggi terpapar virus corona.

Perjuangan para tenaga medis tersebut sangat besar karena mempertaruhkan kesehatan, bahkan nyawanya sendiri, sehingga hal itulah yang menjadi alasan mengapa para dokter hingga perawat kadang tidak pulang ke rumah demi melindungi keluarga tercinta, agar keluarga tidak terkena risiko terinfeksi virus Corona.

Demi menangani pasien positif COVID-19, mereka bekerja tanpa kenal lelah dan secara tulus ikhlas, serta berusaha maksimal untuk menyelamatkan nyawa pasien, bahkan sebagian dari mereka harus rela meregang nyawa terpapar virus Corona saat menjalankan tugas mulia tersebut.

Perjuangan yang cukup berat menangani pasien baik yang positif, pasien dalam pengawasan (PDP), maupun orang dalam pemantauan (ODP) juga dirasakan dokter perempuan, paramedis perempuan, dan karyawan perempuan di sejumlah rumah sakit yang menjadi rumah sakit rujukan penanganan COVID-19 di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Jember Klinik dr Dian Suminar Pertiwi mengatakan petugas yang berada di IGD harus menggunakan alat pelindung diri (APD) level 2 saat berhadapan dengan semua pasien karena tidak semua pasien yang sakit berbicara jujur saat ditanya keluhan sakit dan riwayat perjalanan dari zona merah atau tidak.

Di ruang IGD tersebut juga terdapat skrining pasien apakah terindikasi COVID-19 atau tidak dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan pasien akan didampingi satpam, namun terkadang pasien tidak menyampaikan informasi dengan jujur kepada petugas medis.

Menurutnya, jika prosedur penanganan pasien COVID-19 diterapkan dengan baik maka perawatan akan dilakukan maksimal.

"Saat di IGD memang petugas medis memiliki risiko tinggi tertular virus Corona dari pasien yang belum terdeteksi sehingga tenaga kesehatan harus menggunakan APD level 2 untuk keamanan kesehatan," tuturnya.

Baca juga: Jember kembali perpanjang masa belajar dari rumah

Baca juga: Pengamat: Anggaran COVID-19 Jember dikhawatirkan bermasalah



Tetap khawatir

Menjadi dokter yang menangani pasien COVID-19 di garda terdepan di IGD RS Jember Klinik, tentu punya rasa khawatir apabila tertular virus Corona dari pasien yang dinyatakan positif, sehingga petugas medis harus mematuhi prosedur protokol penanganan COVID-19 dan menggunakan APD sesuai dengan ketentuan.

Menurutnya dukungan dari keluarga menjadi penyemangat dalam menjalankan tugas. Dia menjaga kesehatan dengan mengonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya imunitas.

Dian mengimbau pasien yang memiliki riwayat perjalanan dari zona merah atau pernah kontak langsung dengan pasien positif COVID-19 harus jujur kepada petugas medis karena ketidakjujuran itu bisa berakibat fatal dan membahayakan keselamatan tenaga kesehatan.

Hal senada juga dialami oleh perawat ruang isolasi RSD dr Soebandi Jember, Widyawati Amd.Kep yang mengaku sering cemas terpapar virus Corona dari pasien dan keluarganya yang tidak jujur menyampaikan kronologis sakit yang dialami dan riwayat perjalanan dari zona merah.

Pasien yang bersangkutan tiba-tiba masuk dengan kondisi yang memburuk dan setelah dikaji lagi, ternyata ada riwayat perjalanan atau pernah kontak dengan pasien positif, sehingga hal tersebut juga menyebabkan perawat kelabakan.

Sejak pertengahan Maret 2020, sudah ada pasien positif COVID-19 yang dirawat di rumah sakit milik pemerintah daerah itu dan perawat di rumah sakit tersebut juga harus bersiaga penuh menghadapi sejumlah pasien yang jumlahnya terus bertambah baik yang positif, PDP maupun ODP.

Untuk menghindari kecemasan itu, perawat juga harus menggunakan APD lengkap saat memasuki ruang isolasi dan mengatur waktu sedemikian rupa, serta meminimalkan kontak dengan pasien positif.

Baca juga: Pemkab Jember anggarkan penanganan COVID-19 Rp479,4 miliar

Baca juga: Ada pegawai positif COVID-19, Kantor Kemenag Jember tutup sementara



Belum terbiasa

Selama merawat pasien positif COVID-19 di ruang isolasi, Widyawati harus selalu menjalankan prosedur dan protokol penanganan sesuai ketentuan, sehingga faktor keselamatan sebelum bertugas menjadi poin penting yang harus diperhatikan oleh para petugas medis.

Kendala yang dialaminya adalah kesulitan dan tidak terbiasa mengenakan pakaian hazmat yang menjadi APD wajib bagi perawat yang berada di ruang isolasi pasien positif COVID-19.

Menggunakan baju APD harus berhati-hati dan benar memakainya karena berat dan panas, serta terkadang sesak, bahkan seorang perawat menggunakannya selama tiga jam selama melakukan tindakan medis terhadap pasien positif COVID-19.

"Meski ada rasa takut, saya bekerja pasrah dan ikhlas karena Allah SWT semata karena tugas itu sudah menjadi tanggung jawab, sehingga harus berpikir positif dan taat terhadap prosedur sesuai protokol penanganan virus Corona demi keselamatan selama bertugas," tuturnya.

Setelah berada di ruang isolasi dan selesai bertugas, perawat dua anak itu selalu mandi dan ganti baju yang bersih untuk pulang ke rumahnya dan selalu mandi lagi setelah tiba di rumah.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, dua anaknya yang berada di rumah harus dititipkan sementara ke orang tuanya dan saudaranya yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Ia mengakui ada rasa khawatir ketika pulang ke rumah, apakah sudah benar-benar bersih saat bertemu dengan keluarganya, meskipun prosedur sudah dijalankan dengan ketat selama di rumah sakit dan sepulang dari rumah sakit.

Baca juga: KAI Jember batalkan lima perjalanan kereta dampak COVID-19

Baca juga: Mahasiswa Unej asal Timor Leste memilih tetap di Jember saat COVID-19



Tugas dan tanggung jawab

Sempat ada cemas ketika harus merawat dan berhadapan dengan pasien positif COVID-19, namun rasa itu mampu dikalahkan karena itu adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab, namun ketika harus kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga kadang rasa kekhawatiran itu muncul.

Demi menjalankan tugas sebagai perawat di ruang isolasi pasien COVID-19, perawat yang biasa dipanggil Widi itu harus rela menjaga jarak dengan anak-anaknya selama pandemi virus Corona demi kebaikan keluarganya.

Ia berharap pandemi COVID-19 segera berakhir karena tugasnya semakin berat di saat banyak warga yang masih mengabaikan imbauan pemerintah untuk di rumah saja dan banyak warga yang tidak menggunakan masker saat ke luar rumah, sehingga kasus pasien yang memiliki gejala terpapar virus Corona semakin bertambah.

"Sesama paramedis juga selalu mengingatkan untuk menjalankan prosedur yang benar dan mengonsumsi multivitamin yang disediakan rumah sakit, di samping dukungan dari masyarakat kepada petugas medis yang menangani COVID-19 juga terus mengalir, sehingga itu juga menguatkan kami," ujarnya.

Salah satu karyawan rumah sakit yang terlibat dalam tim penanganan COVID-19 RSD dr Soebandi, Elita mengatakan ada banyak perubahan yang terjadi di rumah sakit daerah milik pemerintah itu karena awalnya rumah sakit yang ramai jadi sepi, kemudian awalnya teman satu ruangan ramai jadi hanya separuh karena penerapan on-off kerja, sehari masuk sehari libur.

Menurutnya bekerja di area rumah sakit yang menjadi rujukan pasien COVID-19 juga berisiko tertular, sehingga harus benar-benar berhati-hati untuk menjalankan prosedur sesuai dengan protokol kesehatan, seperti selalu pakai masker dan rajin mencuci tangan, meski tidak berhadapan langsung dengan pasien positif.

Duka yang dialami ibu tiga anak itu, tidak bisa memeluk anaknya sepulang kerja dari rumah sakit seperti biasanya, sehingga harus menghindar dulu dan masuk rumah langsung ke kamar mandi, kemudian ganti baju dan baru bisa bermain bersama anak-anak.

Baca juga: Polisi Jember patroli untuk pastikan tidak ada penimbunan bahan pokok

Baca juga: Operasi Pangan Gratis ACT Jember untuk warga terdampak COVID-19



Panas dan pengap

Ia mengatakan karyawan rumah sakit di area administrasi atau pendaftaran jauh lebih susah lagi karena yang biasanya hanya cuci tangan, sekarang harus pakai APD lengkap termasuk hazmat.

"Itu harus dilakukan karena setiap hari mereka harus berhadapan dengan pasien dan keluarga pasien yang tidak diketahui kondisinya, apakah benar-benar sehat atau carrier, sehingga demi keselamatan mau nggak mau walaupun panas dan pengap tetap wajib pakai APD," ucap mantan jurnalis itu.

Ia mengimbau masyarakat tetap mematuhi imbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan menerapkan perilaku hidup bersih, meskipun sudah banyak pasien yang sembuh dari COVID-19, bukan berarti bisa seenaknya lagi.

Selama pandemi belum dicabut, masyarakat diminta untuk tetap disiplin di rumah, apalagi kalau ada anak kecil, bayi atau balita, lansia, orang yang menderita penyakit kronis atau infeksi berat, harus semakin hati-hati.

Bisa jadi pasien positif COVID-19 dalam kondisi sehat, tapi kalau menularkan kepada mereka yang berisiko berdampak fatal hingga menyebabkan kematian.

Data Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Jember mencatat jumlah pasien positif di kabupaten itu sebanyak empat orang dan satu diantara nya sudah sembuh, kemudian 48 PDP, dan 1.004 ODP hingga Selasa malam.*

Baca juga: Satu pasien positif COVID-19 di Jember sembuh

Baca juga: Puluhan santri yang pulang ke Jember jalani penyaringan COVID-19

Oleh Zumrotun Solichah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar