London (ANTARA News/AFP) - Harga minyak terguling di bawah 67 dolar AS per barel pada Senin waktu setempat, setelah Bank Dunia mengeluarkan prospek suram untuk ekonomi negara-negara berkembang, kata para pedagang.

Pasar juga turun tajam, karena para pedagang mengambil keuntungan dari penguatan baru-baru ini, dan menguatnya dolar AS terhadap mata uang saingannya.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk pengiriman Juli, merosot 2,76 dolar AS ke 66,79 dolar AS per barel. Kontrak telah berakhir pada Senin.

Minyak mentah "Brent North Sea" London untuk penyerahan Agustus turun 2,50 dolar AS menjadi 66,69 dolar AS.

"Harga minyak mentah telah terus menurun lagi karena menguatnya dolar ... dan setelah Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan global pada 2009 dan 2010 untuk banyak ekonomi, termasuk Amerika Serikat, Jepang dan wilayah euro, mengurangi sentimen pasar," kata Sucden analis Nimit Khamar.

Harga terkoreksi setelah menembus tanada 72 dolar AS dalam delapan bulan terakhir, di tengah keprihatinan mereka meningkat jauh di depan sebuah pemulihan dalam ekonomi global yang sakit, kata analis.

Bank Dunia memangkas ramalan-nya untuk ekonomi negara berkembang, memperkirakan pertumbuhan kecil 1,2 persen tahun ini dan memperingatkan perlunya tindakan lebih untuk mempertahankan pemulihan berjalan terus.

Sejumlah proteksi turun tajam dari dua tahun sebelumnya.

Negara-negara berkembang memperlihatkan pertumbuhan 8,1 persen pada tahun 2007 dan ekspansi 5,9 persen pada 2008.

Ekonomi melemah di negara-negara berkembang setelah beberapa tahun tumbuh kuat, meningkatkan risiko sosial dan kemiskinan mendalam, kata bank 185 negsra tersebut.

Dalam kegiatan pasar valuta asing pada Senin, euro jtuh terhadap dolar di tengah kegelisahan baru tentang keadaan ekonomi dunia dan jelang pertemuan kebijakan moneter AS pekan ini.

Sebuah penguatan mata uang dolar, membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lemah, yang pada gilirannya akan cenderung mengurangi permintaan dan menarik pasar menjadi lebih rendah.

Harga minyak jatuh dari rekor tertinggi di atas 147 dolar AS pada Juli 2008 menjadi sekitar 32 dolar pada Desember karena kemunduran ekonomi telah menggerus permintaan energi - tetapi pasar telah "rebounded" (berbalik naik).

Pusat Studi Energi Global (CGES), dalam laporan terakhir yang dipublikasikan Senin, menyerukan kartel produsen minyak OPEC untuk meningkatkan pasokan minyak untuk membantu mendinginkan harga, takut bahwa rally baru-baru ini dapat menghambat pemulihan ekonomi.

"OPEC, pemegang seluruh ketersediaan kapasitas produksi cadangan minyak dunia, patut untuk menanggapi sentakan harga minyak dengan meningkatkan pasokan," kata CGES.

"Lebih banyaknya pasokan akan menyertakan tujuan pelambatan pengetatan fundamental pasar (dari penawaran dan permintaan), mereka harus membuktikan menjadi penyebab harga tinggi."

"Namun, kenaikan produksi juga akan mengubah persepsi pasar, menunjukkan kepada para spekulator bahwa OPEC adalah serius mencegah harga meningkat tajam seperti tentang penurunan tajam tahun lalu.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009