New York (ANTARA News/AFP) - Harga minyak turun pada Rabu waktu setempat, karena dolar AS menguat dan Amerika Serikat melaporkan data persediaan energi yang "mixed" (beragam), kata para pedagang.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk pengiriman Agustus, merosot 57 sen dari penutupan Selasa menjadi berakhir pada 68,67 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah "Brent North Sea" London untuk pengiriman Agustus turun 47 sen menjadi 68,33 dolar AS per barel.

Pedagang mengatakan harga didikte oleh dolar, yang naik setelah badan pembuat kebijakan Federal Reserve AS menyimpulkan pertemuan dua harinya dengan kesepakatan untuk mempertahankan suku bunga hampir nol, untuk menstimulus ekonomi terbesar di dunia dari resesi berkepanjangan.

Sekitar 1830 GMT, euro jatuh pada 1,3938 dolar dari 1,4078 dolar pada akhir perdagangan New York pada Selasa.

Sebuah penguatan mata uang AS membuat harga minyak dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) juga mengatakan bahwa "kondisi ekonomi yang cenderung sangat rendah menjamin tingkat suku bunga federal fund untuk diperpanjang periodenya."

Para analis mengatakan, Fed telah mempertahankan langkah agresifnya untuk menstimulus ekonominya yang terikat resesi meskipun berkembang gagasan "green shoots" (pucuk hijau).

Pasar juga mencerna data dari Departemen Energi AS pada Rabu yang menunjukkan stok minyak mentah menurun 3,8 juta barel pada minggu yang berakhir 19 Juni, lebih tajam dari 1,3 juta barel yang diharapkan oleh sebagian besar analis.

Namun, persediaan dari bensin melonjak 3,9 juta barel dibandingkan dengan ekspektasi naik satu juta barel.

"Hampir setiap angka-angka membatalkan angka yang keluar lainnya," kata analis Sucden Robert Montefusco, yang menunjuk fakta bahwa dalam hal nominal jatuhnya persediaan minyak mentah hampir bersesuaian dengan kenaikan stok bensin.

John Kiduff dari MF Global mengatakan bahwa pasar tetap mengkhawatirkan permintaan.

"Kenaikan terlalu besar persediaan bensin jelang penggunaan tinggi dari musim mengemudi jelas menekan pasar," ujarnya.

Pasar juga tetap dicengkram oleh kekerasan pasca pemilu di produsen minyak mentah utama Iran.

Polisi anti huru hara memblokir kumpulan pemerotes di Teheran pada Rabu, saksi mengatakan, karena pemimpin tertinggi Iran memperingatkan dia tidak akan mundur dalam menghadapi kerusuhan setelah sengketa pemilu presiden.

"Dalam beberapa kejadian tentang pemilu, saya telah tegas tentang pelaksanaan undang-undang dan saya akan (meminta dengan tegas). Baik sistem, maupun orang-orang yang akan kembali turun di bawah kekuatan," kata Ayatollah Ali Khamenei.

Itu adalah indikasi terbaru bahwa rezim klerikal tidak akan membiarkan ketidaksepakatan atas terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad walaupun gelombang demonstrasi dan keluhan masyarakat bahwa pemilu 12 Juni curang.

Diindikasikan aparat keamanan tidak membuang-buang waktu untuk memadamkan protes, dengan menghadirkan banyak polisi anti huru hara dan militan Islam untuk menghentikan ratus orang yang mencoba untuk berkumpul di luar gedung parlemen Iran, menurut saksi.

Para analis khawatir bahwa memburuknya krisis dapat menyebabkan pemerintah Iran untuk mengurangi pasokan minyak atau memblokir Selat Hormuz - jalan yang vital untuk tanker minyak.

Harga minyak mentah berjangka jatuh dari poin rekor tertinggi lebih dari 147 dolar AS pada Juli 2008 menjadi sekitar 32 dolar pada Desember karena kecenderungan turun ekonomi menggerus permintaan energi tetapi pasar telah kembali naik di tengah harapan pemulihan.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009