Jakarta (ANTARA News) - Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Mulya E Siregar mengatakan, berdasarkan informasi AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Finance Institution) 80 persen sukuk internasional yang beredar di seluruh dunia tidak sesuai dengan syariah Islam.

"AAOIFI menyatakan 80 persen dari sukuk international yang diterbitkan tidak sesuai syariah Islam," katanya dalam seminar di Universitas Paramadina Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, dunia saat ini didominasi produk keuangan syariah yang memiliki kemiripan dengan produk derivatif produk keuangan konvensional.

"Kecenderungan produk keuangan syariah internasional didominasi produk yang memiliki kamuflase underlying aset. Jadi seolah-olah produknya ada underlying asetnya padahal tidak," katanya.

Ia mengatakan, di antaranya produk yang berbasis pada murabaha tawaruk dan bai` al inah yang berkembang di Malaysia. Menurut dia, perkembangannya memang cepat tapi itu mirip produk konvensional.

Ia mencontohkan pada transaksi bai`al inah yang pada intinya adalah meminjam uang namun dengan transaksi rumit yang menambahkan margin laba sehingga lebih cenderung riba.

Transaksi ini dimulai dari seseorang, misalnya A ingin meminjam uang kepada B. Namun si A harus membeli barang dulu kepada si B dengan cara kredit. Kemudian barang yang dijual ke A itu kemudian dibeli secara cash oleh si B lagi dengan harga yang lebih rendah.

Sehingga si A akhirnya mendapatkan uang cash, namun ia juga harus membayar kredit.

"Jadi seolah-olah ada underlying asetnya, padahal tidak, sebenarnya kan bisa akad meminjam biasa dengan akad biasa," katanya.

Keadaan ini, menurut dia, hanya menggelembungkan uang, namun tidak berarti apapun bagi sektor riil. "Padahal substansinya itu produk syariah memiliki dampak ke sektor riil," katanya.

Sementara itu, menurut data yang dihimpun selama sepuluh tahun ini produk keuangan syariah internasional melebihi 250 miliar dolar AS dengan rata-rata pertumbuhan 23,5 persen.

Sedangkan pada 2008, setidaknya 7,8 miliar dolar AS sukuk diterbitkan menurun dibandingkan 2007 yang mencapai 13,8 miliar dolar AS. Hal ini karena krisis global yang melanda dunia. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009