Jakarta (ANTARA News) - Mantan Menteri Pariwisata di era Presiden BJ Habibie, Marzuki Darusman, dalam buku yang baru diluncurkannya "Kekacauan Negara di Tengah Presiden Ketiga dan Keempat," menyebutkan Habibie pernah mengumpat Soeharto karena Presiden Kedua RI ini meragukan kemampuannya.

"Bapak kurang ajar," demikian hardikan Habibie kala itu kepada Presiden Soeharto yang menjadi atasannya selama puluhan tahun, seperti dituturkan Marzuki, Kamis.

Pada bagian II buku tersebut, Marzuki Darusman menulis sisi lain di balik suksesi 1998 dari Presiden Soeharto kepada wakilnya, BJ Habibie.

Disebutkan, Soeharto nekat melanjutkan pemerintahannya dan menilai wakilnya (Habibie) tidak bisa mengatasi krisis ekonomi dan politik yang sedang melanda Indonesia saat itu.

"Kalau saya berhenti sekarang, apa wakil saya itu bisa," demikian penuturan Presiden Soeharto kepada sejumlah tokoh nasional yang dipimpin Nurcholis Majid saat menemui salah satu orang terkuat Asia itu di Jalan Cendana.

Penilaian miring Soeharto itu akhirnya didengar Habibie. Dan setelah diberitahukan oleh Tanri Abeng, Habibie marah dan langsung menemui Soeharto di Cendana hingga kata "kurang ajar" keluar dari mulutnya.

Buku yang diterbitkan Dian Rakyat dan diluncurkan, Kamis, di Istora Senayan, Jakata itu memang mengungkap sisi lain dibalik suksesi kepemimpinan nasional pada 1998.

Marzuki mengatakan buku yang ditulisnya tersebut bersifat fiksi, namun bisa juga dinilai realita karena diangkat dari fakta sejarah yang tidak semua orang mengetahuinya.

"Hal yang ingin diangkat dalam buku ini adalah pesan moral bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama. Presiden adalah manusia, Menteri juga manusia. Semua manusia punya kekurangan. Dalam kekurangan itu kita dituntut saling menghargai, bukan untuk saling menghujat," kata Menteri Kehutanan era Abdurahman "Gus Dur" Wahid ini.

Hadir dalam acara peluncuran buku Marzuki Usman, dua mantan Menteri di era kepemimpinan Presiden BJ Habibie yaitu Malik Fadjar dan Tanri Abeng.

Malik Fadjar yang mantan Menteri Agama saat itu mengakui rumahnya pernah digunakan untuk rapat 14 orang menteri yang mengundurkan diri dari kabinet Soeharto.

Ia mengungkapkan, pengunduran diri Soeharto bukan semata lantaran mundurnya 14 Kabinet Pembangunan VII, namun karena banyak aspek terutama tekanan politik dan ekonomi yang semakin mempersulit kondisi negara.

Sedangkan Tanri Abeng mengaku mendengar langsung ucapan Presiden Soeharto yang kurang mempercayai kemampuan Habibie dalam memimpin negara.

"Saya dengar sendiri kesan Pak Harto terhadap Pak Habibie," kata Abeng. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009