Tanjungpinang (ANTARA News) - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Janggi Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri, yang melayani masyarakat Kota Tanjungpinang menyatakan, hujan buatan tidak efektif mencegah krisis air bersih.

Kepala Seksi Humas PDAM Tirta Janggi Kabupaten Bintan, Syahrial, Jumat mengatakan, hujan buatan yang direncanakan Pemerintah Provinsi Kepri tidak dapat dipastikan mencurahi Sungai Pulai, yang merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi PDAM Tirta Janggi.

"Anggarannya untuk mengadakan hujan buatan itu sangat besar, namun belum pasti dapat menambah volume air di Sungai Pulai," ujarnya.

Dia menyarankan, sebaiknya anggaran untuk pengadaan hujan buatan digunakan untuk memperdalam Sungai Pulai yang sejak beberapa bulan terakhir mengalami pendangkalan.

Selain itu, kata dia, pipa pengisap air juga perlu diperpanjang, karena sudah tidak dapat menjangkau air Sungai Pulai.

"Tiga pipa pengisap sudah mulai tidak dapat menjangkau air Sungai Pulai. Sementara dua pipa lainnya diperkirakan tidak berfungsi lagi jika dalam dua bulan ini volume air Sungai Pulai tidak bertambah," katanya.

Syahrial mengatakan, Pemerintah Provinsi Kepri berencana membangun jembatan di Sungai Pulai agar pipa pengisap air dapat menjangkau air Sungai Pulai.

"Itu ide yang mulia," kata Syarial.

Dia mengatakan, waduk Sungai Pulai memiliki luas 45 hektare, dengan volume air yang normal 12-13 meter. Saat ini air menyusut hingga lima meter sehingga pipa pengisap air tidak dapat menjangkaunya.

"Sebanyak tujuh pipa penyedot air yang dimiliki PDAM Tirta Janggi itu berada di bibir Sungai Pulai," ujarnya.

Kedangkalan Sungai Pulai menyebabkan 60 persen dari 18.600 pelanggan PDAM Tirta Janggi tidak mendapatkan air bersih.

"Pipa pengisap air tidak berfungsi secara normal, karena itu sebanyak 60 persen pelanggan tidak dapat menikmati air," katanya.

Dalam kondisi normal, kata dia, pelanggan dapat menikmati air dari PDAM Tirta Janggi selama enam jam dalam sehari. Namun sekarang air Sungai Pulai mengalir tiga kali sehari, itupun dengan intensitas yang kecil.

"Bahkan pelanggan yang tinggal jauh dari pusat pendistribusian air hanya dapat menikmati air tersebut lima hari sekali," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009