Anak-anak lebih sering online sejak pandemi COVID-19

Anak-anak lebih sering online sejak pandemi COVID-19

Ilustrasi seorang anak usia sekolah sedang melakukan metode belajar daring. (shuterstock)

Sejak pandemi, anak-anak mengakses internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya
Jakarta (ANTARA) - International Telecommunications Union (ITU), Badan PBB yang mengurus teknologi dan jaringan, berpendapat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya sejak pandemi COVID-19.

Keadaan tersebut dinilai mengkhawatirkan, karena sejak pandemi, anak-anak mengakses internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya.

"Banyak anak yang terhubung dalam jaringan lebih awal dari keinginan orang tua mereka, dalam usia yang lebih muda dan tidak punya keterampilan yang dibutuhkan untuk melindungi diri mereka, apakah dari pelecehan daring atau perundungan," kata salah seorang direktur ITU, Doreen Bogdan-Martin, dikutip dari Reuters, Rabu.

Baca juga: Sekolah daring dari rumah, ini tips untuk penyesuaian diri anak

Baca juga: Kenali tanda-tanda anak alami perundungan online

Lembaga yang berbasis di Jenewa, Swiss itu memperkirakan ada 1,5 miliar anak yang terpaksa tidak sekolah karena penutupan wilayah demi menghentikan penyebaran Virus Corona.

Sebagai ganti waktu bersekolah, mereka belajar secara daring, juga untuk bersosialisasi dan melakukan hobi mereka.

ITU juga menyoroti waktu yang dihabiskan anak-anak untuk online sehari-hari selain untuk belajar, misalnya bermain 'game' atau bersosialisasi.

ITU berencana mempercepat peluncuran panduan untuk melindungi anak-anak di dunia maya dalam waktu dekat.

Selain itu, lembaga tersebut juga menggarisbawahi pandemi ini menciptakan "kesenjangan digital", yaitu ada orang-orang yang memiliki akses internet dan ada yang tidak.

Internet berpengaruh terhadap kegiatan belajar selama pandemi COVID-19. Jika tidak ada internet, kegiatan belajar anak akan terganggu.

Bogdan-Martin menyatakan ITU sedang bekerja dengan lembaga PBB untuk anak-anak agar bisa berkomunikasi lewat jaringan 2G.

ITU memperkirakan ada 3,6 miliar orang yang tidak punya akses ke internet, juga banyak orang yang harus mengeluarkan banyak uang untuk tersambung ke internet atau koneksi mereka tidak bagus.

Baca juga: Kiat lindungi anak dari "Predator Online"

Baca juga: Dokter paparkan perlunya batasan waktu anak bermain gawai

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Isi waktu luang anak saat #dirumahaja dengan les balet daring

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar