Antara Ronaldo, Messi dan Torres

Jakarta,  (ANTARA News) - "Kita adalah angkatan yang tak bisa mereka didik, karena kita memahami lebih baik", (We are the class, they couldn`t teach, `cause we know better!). Nukilan tembang ini dicopot dari tembang berjudul "Born in the 50`s" yang dilantunkan oleh grup band The Police. Lagu itu menyasar kepada perjuangan unjuk gigi bagi proklamasi bahwa jangan pernah tampil sebagai generasi yang sok menindas, apalagi memainkan gaya kepemimpinan bisik-bisik di kegelapan, kemudian merebut mikropon untuk berkoar sebagai jagoan yang mendadak turun dari langit. Kalau ada kisah bidadari dari kahyangan, maka ini bukan kisah pangeran dari jagat entah berantah. Ini bukan pula adu terampil main pat-gulipat bahwa sepiring uang datang begitu saja tanpa menunjukkan prestasi. Karena, murid kritis mengajukan pertanyaan menyelidik serba menggelitik nalar, "Ketrampilan anda apa? Jualan utama anda apa kepada publik?" Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Fernando Torres tampil ke jagat sepakbola sebagai tiga sekawan yang menyingkirkan kebekuan dari segala apa yang bernuansa serba normal, serba biasa-biasa saja. Ketiganya mengepalkan tinju ke udara seraya berucap kata, "Ini tinju kami, mana tinjumu." Mengapa? Karena ketiganya memiliki nyali untuk mencungkil mentalitas "nonsense" yang berkomplot demi kejayaan kelompok sendiri. Langkah awalnya: libas ideologi empat L (Lu lagi, Lu Lagi). Bukan lantaran pemain Machester United, Cristiano Ronaldo, menyabet penghargaan pemain terbaik dunia FIFA 2008, maka pemain asal Portugal itu mencekoki Messi dan Torres dengan ideologi pembebasan dari mentalitas pasif, cepat puas diri dan tidak kritis. Ketiganya tampil sebagai sosok yang aktif, tidak berpuas diri dan kritis. Baik Ronaldo, Messi dan Torres sama-sama mendemonstrasikan kepada dunia bahwa mengobarkan revolusi terhadap masyarakat berdimensi satu (one dimensional society) bukan sebatas slogan "berubah dan berubah". Apalagi, kalau ada embel-embel ambisi akan guyuran uang (pecuniary culture). Filsuf John Dewey menulis, "Kita sedang hidup dalam kultur uang. Kultur dan ritusnya menentukan pertumbuhan dan keruntuhan suatu lembaga dan ia menguasai nasib setiap individu." Dan Karl Marx menulis, "Karena uang, kesetiaan dapat diubah menjadi khianat, cinta menjadi benci, benci dapat menjadi cinta; budak dijadikan tuan, tuan menjadi budak; kebodohan menjadi kepandaian, kepandaian menjadi kebodohan." Keterasingan karena iming-iming uang tidak membawa manusia kepada kemanusiaan yang paripurna. Meski Ronaldo, Messi dan Torres perlu uang, tetapi ketiganya ingin melakoni kemanusiaan sebagai pribadi yang membumikan keutamaan-keutamaan aristokrat sejati. Pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson punya jurusnya. "Kami semua bangga dia menerima penghargaan tertinggi itu. Kami pikir, dia banyak berutang kepada MU karena kesuksesannya tersebut," kata Ferguson. Ronaldo mengamini bahwa dia banyak berutang kepada MU, termasuk kepada Ferguson, dalam kemajuan kariernya. "Benar, Ferguson punya peran penting dalam karierku. Ini musim yang indah bagiku dan bagi klubku. Sang pelatih sangat penting bagiku, karena aku belajar banyak darinya," kata Ronaldo. Selain lihai menggiring bola, menggocek pemain belakang lawan, melepaskan tembakan ke gawang, publik cukup merasakan getar sihirnya akan aksi teatrikal, utamanya di daerah pertahanan lawan. Pemain sayap berjuluk CR7 ini dianugerahi kecepatan, kekuatan dan kemampuan luar biasa dalam menerobos lini pertahanan lawan. Inilah daya pembebasan dari CR7 bagi generasi jaman ini. Kalau Beckham punya kejelian mengumpan bola, maka Ronaldo lebih mengandalkan kemampuan untuk merobek konsentrasi lawan dengan segudang aksi warna-warni di lapangan. Beckham punya energi, sementara Ronaldo beraksi sebagai pemain sirkus. Begitu ibaratnya bagi CR7. Meski Ronaldo dijuluki punya kepribadian eksibisionis, tetapi ia merayu publik Old Trafford agar bersedia bertepuk tangan atas aksi lapangan yang aduhai. Ronaldo membuktikan dirinya sebagai salah satu mesin gol skuad "Setan Merah". Pemain kelahiran Madeira ini kini tengah dibidik oleh Real Madrid dengan segepok uang. Kekritisan versus godaan uang. Fragmen menarik juga menerpa Lionel Messi. Kini ia banyak mendulang decak kagum publik, karena penampilannya banyak dibandingkan dengan Diego Maradona semasa muda. Pemain berusia 21 tahun ini punya kemampuan mengontrol bola dan melepaskan diri dari kawalan pemain lawan untuk memotivasi sesama rekan tim guna meneror pertahanan seteru. Ini makin sempurna karena Messi punya kecepatan. Lahir di Rosario, Santa Fe di Argentina pada 24 Juni 1987, Messi bergabung ke Barcelona sejak usia 13 tahun. Dengan cepat, bintangnya bersinar sebagai pemain muda berbakat. Pelatih Fank Rijkaard memberi kesempatan memulai debutnya di tingkat senior saat menjalani laga persahabatan melawan Porto pada November 2003 pada usia 16 tahun. Ia menjalani laga perdana bersama timnas Argentina pada pertandingan persahabatan melawan Hungaria pada Agustus 2005. Ini mengingatkan torehan sejarah ketika Maradona turun bertanding pada usia 16 tahun. Messi membawa Argentina merebut medali emas dalam ajang Olimpiade tahun lalu. Ia telah mengoleksi sebanyak 11 gol di Liga Primera pada musim kompetisi ini. Di Liga Champions, ia mencetak lima gol. Sebuah potret perjuangan dari Messi yang mengingatkan publik akan makna dari semangat tidak cepat berpuas diri, tetapi terus mencari dan mencari untuk menemukan sejatinya dari laga sepakbola. Imajinasi serupa terpapar dalam diri Fernando Torres. Pemain Liverpool yang dijuluki El Nino ini hijrah dari Atletico Madrid ke Anfield pada 2007 dengan bayaran sekitar 20 juta poundsterling. Sebagai pencetak gol, publik menyebut penampilannya mirip Ian Rush dan Kenny Dalglish. Pemain Spanyol ini punya mata elang dalam membidik mangsa. Utamanya, pemain belakang yang lengah, karena bayarannya kelewat mahal yakni gol. Hebatnya, ia membuktikan diri sebagai pemain yang mampu bertahan di tengah persaingan keras sepakbola Inggris. Ia mampu melesakkan 24 gol ketika mengawali musim kompetisinya di Liga Primer bersama Liverpool. Prestasi ini menoreh catatan tersendiri di buku besar sejarah sepakbola Inggris sebagai striker dari luar Inggris yang tampil subur. Hebatnya lagi, ia mencetak gol kemenangan bagi negaranya saat melawan Jerman di final Piala Eropa 2008. Refleksi apa yang dapat dipungut publik dari perjuangan tiga besar dalam pemilihan Pemain Terbaik Dunia FIFA 2008 ini? Dalam pemungutan suara, Cristiano Ronaldo (Portugal) mendulang 935 poin, Lionel Messi (Argentina) 678 poin, Fernando Torres (Spanyol) 203 poin. Poin terpenting dan terutama yakni ketiganya mengeksplorasi imajinasi untuk terbebas dari segala kungkungan sistem. Boleh dibilang, ketiganya melahirkan imperatif sejarah: janganlah mengulangi "industrial genocide". Maksudnya, membebaskan diri dari pola berpikir totaliter, pola berpikir yang menghakimi seluruh jaman dengan memproklamirkan diri, sebagai kelompok atau individu yang paling benar. Padahal, dunia itu ibarat telur di ujung tanduk.(*)

Oleh Oleh A.A. Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar