IDAI ajak warga kenali penyakit lupus pada anak sejak dini

IDAI ajak warga kenali penyakit lupus pada anak sejak dini

Dokumentasi - Sejumlah relawan mengadakan aksi simpatik memeringati Hari Lupus Sedunia di jalanan Dago Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/5/2015). ANTARA FOTO/Agus Bebeng/Rei/ama/aa.

Jadi tidak hanya potensi, tapi juga memerlukan pencetus dari lingkungan
Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengajak masyarakat di Tanah Air, khususnya para orang tua, untuk mengenali penyakit lupus pada anak sejak dini guna mencegah terjadinya penyakit atau komplikasi bahkan kematian.

"Lupus sering juga disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah yang bisa menyerupai berbagai penyakit lainnya sehingga memerlukan pengenalan secara dini," kata Konsultan Alergi Imunologi Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sekaligus Anggota IDAI Dr Reni Ghrahani Dewi Majangsari saat diskusi daring "Mengenali Lupus Pada Anak" di Jakarta, Selasa.

Ajakan tersebut disampaikan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Lupus Sedunia yang jatuh setiap 10 Mei, sebab lupus salah satu penyakit yang cukup berbahaya.

Ia menjelaskan lupus ialah penyakit yang mengenai sistem imun, di mana sistem imun tersebut seharusnya melindungi terhadap berbagai infeksi virus, bakteri, atau jamur dari luar, namun malah berbalik menyerang kepada sistem dan organ tubuh sendiri.

"Sementara sistem imun itu bekerja dengan begitu hebatnya melawan virus dari luar, ini malah menyerang kepada organ sendiri," ujarnya.

Baca juga: Kenali lupus dan gejalanya

Apalagi dengan terbentuknya autoantibodi, kata dia, penyakit itu dapat menyerang segala organ mulai dari kulit, persendian, otak, ginjal, jantung, paru-paru sehingga pada perjalanan penyakit yang progresif itu bisa menyebabkan kematian.

Ia menjelaskan anak-anak dengan penyakit lupus umumnya terlahir dengan suatu potensi genetik untuk menderita penyakit autoimun.

Namun, kata dia, tidak semua anak yang memiliki potensi genetik tersebut akan sakit. Umumnya itu memiliki pencetus dari luar atau lingkungan misalnya ultraviolet, infeksi virus tertentu atau beberapa obat-obatan tertentu.

"Jadi tidak hanya potensi, tapi juga memerlukan pencetus dari lingkungan," ujar dia.

Sebagai hal penting lainnya, ia mengingatkan bahwa lupus secara umum terjadi terutama pada masa reproduksi yakni mulai dari masa remaja hingga sepanjang masa reproduksi.

Khusus untuk anak, katanya, paling sering terjadi pada usia 9 hingga 15 tahun.

Bahkan, dalam salah satu penelitian yang pernah ia lakukan di Bandung, data menunjukkan anak usia 11 hingga 13 terbanyak menderita lupus.

Baca juga: "728 hari" sisa hari inspiratif penyandang lupus
Baca juga: "Terima Kasih Cinta" berikan edukasi penyakit lupus

 

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar