Telaah

Jangan kasih "kendor"

Oleh Naufal Mahfudz *)

Jangan kasih "kendor"

Direktur Umum dan SDM BPJAMSOSTEK Naufal Mahfudz. (ANTARA/HO-BPJAMSOSTEK)

Jakarta (ANTARA) - Jangan kasih kendor. Mungkin itu frasa yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi hari ini dan beberapa hari ke depan, yakni saat pandemi COVID-19 di negeri ini belum juga mereda, dan saat bulan suci Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir.

Kendor atau tepatnya kendur menurut bahasa Indonesia yang baku adalah kondisi yang tidak kencang, longgar atau melemah.

Jika melihat data kecenderungan kurva kasus pasien positif COVID-19 di salah satu daerah episentrum penyebaran virus korona beberapa hari terakhir memang melandai dan ada penurunan.

Namun, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa wabah ini segera berakhir. Jangan-jangan data ini masih sangat fluktuatif. Bersyukur jika kurva kasus pasien positif COVID-19 di negara kita terus menurun.

Lepas dari kontroversi yang dipahami di kalangan masyarakat, kita tidak boleh kendur melawan virus yang belum ada vaksinnya ini. Pemerintah di satu sisi menyatakan bahwa warga negara yang berusia 45 tahun ke bawah diperbolehkan untuk bekerja kembali pada 11 bidang usaha tertentu.

Warga negara pada rentang usia ini diberi prioritas untuk beraktivitas kembali di samping karena tidak termasuk dalam kelompok rentan terpapar COVID-19 juga agar mereka tidak kehilangan mata pencaharian atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Namun, di sisi lain pemerintah juga menyatakan bahwa belum ada produk hukum yang memperbolehkan warga berusia di bawah 45 tahun untuk kembali bekerja. Jadi ketentuan operasional sektor usaha tertentu dalam peraturan pemerintah tentang tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlaku.

Begitu juga tentang larangan operasional transportasi, masyarakat menjadi bingung ketika pemerintah memberikan kelonggaran dengan mengizinkan kepada sejumlah moda transportasi untuk beroperasi mengangkut penumpang antar kota antar propinsi. Di sisi lain pemerintah tetap melarang warganya untuk mudik.

Hal lain tentang anjuran Presiden untuk tetap beribadah di rumah. Pemerintah dan beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewacanakan relaksasi PSBB di rumah ibadah sebagaimana relaksasi yang diberikan untuk sarana perhubungan dan pusat perbelanjaan. Sementara ulama masih tetap menganjurkan untuk beribadah di rumah, termasuk ibadah-ibadah di bulan Ramadan dan Shalat Idul Fitri.

Karena itu, sebaiknya masyarakat jangan kasih kendur dan tetap istiqomah kencang memerangi COVID-19 dengan terus disiplin mematuhi seluruh protokol-protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah maupun para ahli kesehatan sampai benar-benar diyakini bahwa penyebaran virus korona ini berhenti di seluruh wilayah negeri.

Baca juga: Ombudsman DKI minta Pemprov ubah Pergub 41/2020 jadi Perda

Baca juga: Gubernur Sumsel minta PSBB gunakan konsep tegas humanis



Sepuluh hari terakhir

Bulan suci Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir. Sejatinya semua hari pada bulan suci ini sangat istimewa dan semua muslim dianjurkan untuk melakukan ibadah dengan baik. Namun sepuluh hari terakhir Ramadhan tetap memiliki perbedaan dibanding hari-hari sebelumnya. Ada banyak keistimewaan yang dimiliki sepertiga bulan terakhir ini sehingga Rasulullah mencontohkan dengan mengencangkan dan meningkatkan ibadahnya.

Jika kita sudah kencang menjalankan ibadah-ibadah di hari-hari sebelumnya, maka jangan kasih kendur di sepuluh hari terakhir, terutama di waktu malam, bulan suci Ramadhan ini. Umat Islam sangat dianjurkan untuk memburu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari). Lailatul Qadar memiliki kebaikan setara dengan seribu bulan, bahkan lebih baik.

Istri Rasulullah SAW, Siti 'Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan lebih dari pada di hari-hari lainnya." (HR Muslim dan Ahmad). Selanjutnya Siti 'Aisyah juga berkata, “Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Semua muslim diwajibkan untuk mengikuti ibadah-ibadah yang pernah Rasulullah contohkan. Saat sepuluh hari terakhir Ramadhan seyogyanya meningkatkan amalan-amalan agar kesempatan meraih pahala dan keberkahan lebih besar. Apalagi kesempatan emas ini hanya diberikan sepuluh hari dalam setiap tahun.

Berikut ini ibadah-ibadah atau amalan-amalan yang patut ditunaikan dan diperbanyak intensitasnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pertama, memperbanyak membaca atau tilawah ayat-ayat suci Al Quran, baik di dalam shalat maupun di luar sholat. Membaca dan mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan sangat dianjurkan dalam Islam.

Betapa berlipatnya pahala membaca Al Quran sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut. Satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf".

Hadits lain lain diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Barangsiapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam”.

Malaikat Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW setiap setahun sekali pada bulan Ramadhan. Pada tahun wafatnya Rasulullah SAW malaikat Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali untuk mengokohkan dan memantapkan.

Amalan kedua yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak shalat malam. Shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat wajib yang lima waktu, sebagaimana sabda Beliau, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR Muslim).

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW menyebutkan bahwa barangsiapa melakukan shalat malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Shalat malam sebaiknya dilakukan setelah bangun dari tidur walaupun tidur yang singkat. Shalat malam dikerjakan paling sedikit dua raka’at dan paling banyak tidak terbatas sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Ibadah ketiga yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah memperbanyak berdo’a, berzikir dan bertaubat. Rasulullah SAW memerintah Siti ‘Aisyah RA untuk memperbanyak do’a di malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Siti ‘Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan? Rasulullah menjawab menjawab, Ucapkanlah, Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni (Ya, Allah, ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku)." (HR. Ibnu Majah).

Ibadah keempat yang juga dianjurkan adalah memperbanyak sedekah di samping kewajiban membayar zakat harta dan zakat fitrah. Ibnu Abbas RA menyaksikan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat dermawan, dan pada bulan Ramadhan beliau lebih dermawan lagi.

Sedekah yang dimaksud adalah mencukupi kebutuhan keluarga, berbuat baik kepada sesama, dan yang tidak boleh dilewatkan adalah memberikan hidangan berbuka (ifthar) kepada orang yang berpuasa. Apalagi di tengah wabah corona ini banyak warga yang tiba-tiba kehilangan penghasilan dan terkena PHK. Bantuan dari masyarakat yang lebih mampu, walaupun sedikit, menjadi sangat berarti buat mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka kepada seorang yang berpuasa, maka dicatat baginya pahala seperti orang puasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang tersebut.” (HR Ahmad).

Amalan selanjutnya adalah itikaf (berdiam) di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW rutin melakukan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Itikaf diisi dengan mengerjakan ibadah-ibadah seperti membaca Al Quran, berdo’a, berzikir dan bertaubat.

Siti ‘Aisyah RA berkata, “Nabi Muhammad SAW melakukan itikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beritikaf sepeninggal beliau.”

Namun, di tengah wabah korona yang masih belum reda di bulan Ramadhan tahun ini, itikaf sulit untuk dilakukan. Anjuran beribadah rumah membuat itikaf tidak bisa di masjid. Yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan ibadah di rumah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dan melakukan ‘itikaf’ di salah satu sudut ruangan dengan berdo’a, berzikir dan bertafakur.

Akhirnya, jangan kasih kendur ikhtiar melawan COVID-19. Karena akan sia-sia upaya mencegah penyebaran virus corona sejak dua bulan terakhir, jika melemah dalam melaksanakan protokol pencegahan penyebaran COVID-19 di tengah jalan.

Jangan kasih kendur ibadah-ibadah Ramadhan karena di sepuluh hari terakhir di bulan suci ini diberikan keistimewaan pahala dan keberkahan bagi yang mengerjakannya dengan khusyuk dan sungguh-sungguh.*

*) Naufal Mahfudz adalah Direktur Umum dan SDM BPJamsostek, Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Maghfiroh BPJamsostek

Baca juga: Kepedulian sosial bantu masyarakat meningkat saat pandemi COVID-19

Baca juga: MUI sebut donor darah di bulan Ramadhan tidak batalkan puasa

Oleh Naufal Mahfudz *)
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Hari ke-40 Operasi Ketupat, 5.734 kendaraan diputarbalikkan ke daerah asal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar