Depok (ANTARA News) - Universitas Indonesia (UI) membuka Program Studi (Prodi) Pascasarjana Herbal yang pertama di Indonesia.

"Indonesia sangat menyadari akan pentingnya kekayaan alam dan budaya Indonesia," kata Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri, usai penandatangan nota kesepahaman (MoU) pendidikan dan penelitian dalam bidang herbal antara UI dan Martha Tilaar Group yang diwakili oleh Martha Tilaar di Gedung Rektorat UI, Depok, Kamis.

Kekayaan alam Indonesia, kata Gumilar, perlu diangkat untuk menjadi sesuatu ilmu yang harus dilestarikan dan digali serta dikembangkan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa, dan negara Indonesia.

Menurut dia, Prodi Herbal Indonesia (Indonesian Herbal Study Program) ini nantinya akan terintegrasi dalam Program Pendidikan Pascasarjana UI.

Untuk staf pengajarnya adalah dari bidang farmasi, kedokteran, kedokteran gigi, keperawatan, biologi, kesehatan masyarakat, pertanian, industri obat herbal, industri kosmetik herbal, dan lain-lain.

Ia juga menjelaskan Prodi Herbal Indonesia ini memiliki tiga kekhususan yaitu herbal medik, herbal dalam keperawatan, dan estetika Indonesia. Pendidikan akan dilaksanakan dalam delapan semester dengan total satuan kredit semester (SKS) sebesar 40 - 42 SKS.

Karakteristik Prodi ini adalah 57 persen atau 24-26 SKS bersifat inti dan wajib diikuti seperti konsep herbal Indonesia, teknologi berbahan alam, farmakognosi (ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai obat alami), kewirausahaan dalam produk herbal dan estetika Indonesia.

Selanjutnya, sebanyak 43 persen (16-18 SKS) adalah materi ajar bersifat khusus sesuai peminatan herbal medik, herbal dalam keperawatan, atau estetika Indonesia.

Beberapa contoh mata kuliah adalah biologi molekuler dan genetika, praktik di klinik herbal, konsep asuhan dan prinsip keperawatan herbal Indonesia, struktur dan fungsi organ dalam estetika, hidroterapi, aromaterapi dan kecantikan holistik, praktik di industri kosmetik herbal dan pusat dan sebagainya.

Sedangkan mengenai kualifikasi, ia mengatakan minimal para peserta Prodi Herbal ini adalah lulusan pendidikan S-1 yang termasuk dalam rumpun ilmu kesehatan dan bidang-bidang yang terkait, yaitu biologi, pertanian, kehutanan, dan dari bidang lain yang mempunyai peminatan terhadap herbal.

"Para peserta Prodi ini akan memperoleh gelar Magister Sains Herbal Indonesia (Master of Science in Indonesian Herbal)," katanya.

Ia mengharapkan para lulusan Prodi ini akan mampu memanfaatkan produk obat herbal/kosmetik herbal yang teruji dari hasil-hasil penelitian untuk kemaslahatan masyarakat secara luas baik nasional maupun internasional.

Untuk itu, katanya, diperlukan kemampuan bekerja sama dengan industri obat herbal/kosmetik herbal terstandar yang mampu berproduksi baik obat herbal maupun kosmetik herbal berskala besar yang berprinsip pada Good Manufacturing Practices (GMP).

Sementara itu, Martha Tilaar mengatakan pentingnya kekayaan alam agar diangkat menjadi sesuatu ilmu yang dapat dikembangkan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Di Indonesia, kata dia, kekayaan alam herbal Indonesia memiliki 30.000 spesies tanaman yang belum tergali dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Ia menjelaskan Thailand sudah sudah lebih dahulu maju dalam tanaman dan buah-buahan, dimana anggrek yang indah dan buah-buahan yang menggunakan kata Bangkok.

Dia menambahkan banyaknya praktik yang tidak sesuai dengan aturan dalam pembuatan produk herbal secara bersih, tepat dan benar seperti terjadinya pencampuran dengan bahan kimia obat akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Untuk itu ia mengharapkan Prodi ini dapat memberikan konsultasi agar praktek pengobatan tradisional tidak menimbulkan efek samping atau penanganan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009