Penuhi kebutuhan daging, Kementan dorong pengembangan sapi pasundan

Penuhi kebutuhan daging, Kementan dorong pengembangan sapi pasundan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus mendorong pengembangan ternak asli Indonesia, yakni sapi pasundan, sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pangan nasional yaitu daging sapi. (Kementerian Pertanian)

Pengembangan sapi pasundan sebagai upaya pemenuhan daging nasional merupakan langkah yang tepat di saat negeri ini masih mengalami kekurangan daging sapi,...
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus mendorong pengembangan ternak asli Indonesia, yakni sapi pasundan sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pangan nasional yaitu daging sapi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menjelaskan sapi pasundan merupakan salah satu kekayaan ternak lokal Indonesia yang telah dipelihara secara turun-menurun oleh masyarakat peternak Jawa Barat sebagai sumber penghidupan.

"Pengembangan sapi pasundan sebagai upaya pemenuhan daging nasional merupakan langkah yang tepat di saat negeri ini masih mengalami kekurangan daging sapi, mengingat keunggulan komparatifnya dibanding sapi lain yang sudah lama hidup di lingkungan tropis," kata Ketut di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Mentan upayakan ketersediaan 11 komoditas pangan selama COVID-19

Ketut menjelaskan pengembangan sapi pasundan bertujuan mempertahankan sumber daya genetik lokal dan upaya penyelamatan plasma nutfah asli Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan teknologi dalam mempertahankan genetik lokal, Kementan memiliki Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang dan Balai Inseminasi Buatan (BUB) Lembang sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen PKH.

Balai tersebut memiliki tugas dan fungsi untuk penyelamatan plasma nutfah dengan memproduksi embrio dan semen beku untuk mendapatkan ternak sapi yang berkualitas.

"Selain sapi pasundan, saat ini donor sapi lokal (plasma nutfah) yang sudah ada di BET Cipelang termasuk sapi aceh, sapi bali, sapi madura dan sapi ongole," kata Ketut.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Sugiono menjelaskan berbagai keunggulan sapi pasundan, yakni selain adaptif dengan kondisi agroekosistem di Provinsi Jawa Barat, Sapi ini juga memiliki sistem reproduksi yang baik, dengan rentang beranak yang relatif stabil dan selalu menghasilkan ternak yang mempunyai nilai kondisi tubuh di atas tiga pada skala lima.

Baca juga: Permintaan pasokan sapi dari luar NTT meningkat selama Ramadhan

Sapi pasundan juga lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan cuaca. Hal ini memberikan dampak positif terhadap sistem kesehatannya, karena dengan lebih mudah beradaptasi, sapi tidak mudah stres.

Selain itu, Sugiono menilai sapi pasundan mempunyai prosentasi karkas yang cukup baik, pada kisaran 50 persen dengan berat bisa mencapai 300-350 kg.

"Sapi pasundan mempunyai potensi untuk menghasilkan daging dengan kualitas premium," kata dia.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Produksi Peternakan, Dinas ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Aida Rosana mengungkapkan upaya pemerintah daerah untuk menggenjot populasi sapi pasundan adalah dengan memproduksi semen bekunya di UPT Daerah Balai Perbibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Potong (BPPIBTSP), Ciamis.

Senada dengan Aida, Kepala UPT Daerah BPPIBTSP Ciamis, Asep Ali Fuad H juga menceritakan upaya Pemda dalam menggenjot populasi sapi pasundan di Jabar, salah satunya adalah dengan menggandeng kelompok binaan di 12 kabupaten untuk melestarikan dan memuliakan plasma nutfah sapi pasundan di Jawa Barat.
 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kebutuhan daging sapi di Sumbar 100 ekor perhari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar