Jakarta (ANTARA News) - Ekspor tekstil dan pakaian jadi (garmen) Indonesia ke Uni Eropa (UE) turun masing-masing sebesar 17,4 persen dan 6,54 persen pada triwulan pertama tahun ini.

"Penurunan permintaan untuk tekstil (serat, benang, dan kain) serta garmen di pasar Uni Eropa masih dipengaruhi oleh krisis global yang terjadi sejak pertengahan tahun 2008 lalu. Turunnya permintaan tersebut membuat persaingan para produsen tekstil semakin ketat untuk masuk ke pasar Eropa," kata Direktur Eksekutif Indotextiles Redma Gita Wirawasta, di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan triwulan I tahun lalu ekspor tekstil ke UE mencapai 54 ribu ton, namun pada periode yang sama tahun ini hanya 44,6 ribu ton atau turun 17,4 persen.

Sedangkan ekspor garmen Indonesia ke UE mencapai 23,7 ribu ton pada triwulan I tahun lalu, namun periode yang sama tahun ini hanya sebesar 22,2 ribu ton atau turun 6,54 persen.

Saat ini, kata dia, pesaing kuat tekstil dan produk tekstil (TPT) asal Indonesia di kawasan UE adalah TPT asal China, India, Vietnam, Bangladesh, Turki, dan negara-negara di kawasan Afrika Utara.

"Industri TPT nasional harus terus digenjot dengan menciptakan iklim bisnis yang mendukung, seperti infrastruktur yang memadai, harga bahan baku yang stabil, tenaga kerja yang produktif, serta regulasi yang dapat merangsang pertumbuhan industri nasional," ujar Redma.

Namun, diakuinya pula kalangan produsen TPT nasional juga harus melakukan pembenahan internal dengan terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sehingga dapat menawarkan produk dengan harga yang bersaing. Selain itu, tim pemasaran memainkan peranan penting dalam membidik pasar.

"Jangan hanya terpaku pada satu pasar saja," kata Redma.

Dia menuturkan, perusahaan yang jeli membaca pasar dan terus melakukan inovasi pada setiap produknya akan bertahan dalam persaingan di industri TPT domestik maupun global.

Lebih jauh Redma menjelaskan sejak triwulan I tahun ini permintaan TPT di kawasan UE turun 12, 34 persen dari 2,98 juta ton, tahun lalu menjadi 2,61 juta ton.

"Produk tekstil memiliki kontribusi lebih besar dalam penurunan jumlah impor, dibandingkan dengan produk garmen. Impor tekstil di UE triwulan I sebesar 1,36 juta ton atau turun 21,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,74 juta ton," katanya.

Sedangkan impor garmen UE mengalami kenaikan tipis 0,23 persen menjadi 1,25 juta ton pada triwulan I tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,24 juta ton. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009