Jakarta (ANTARA News) - Pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dari 31 propinsi telah menyiapkan rencana aksi mogok sampai pada tingkat komisariat PPNI untuk mendorong agar pemerintah dan DPR mengesahkan RUU Keperawatan (RUUK) menjadi UUK, kata Ketua Umum PPNI Prof Achir Yani S Hamid, MN, DNSc.

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, Achir Yani mengatakan, PPNI secara nasional juga akan menyiapkan Tim Advokasi Hukum untuk perawat anggota PPNI yang mendapatkan masalah hukum terkait dengan aktivitas/kegiatan gerakan nasional untuk mensukseskan UU Keperawatan.

Menurut ia, rakernaslub PPNI (12/8) di Jakarta, menghasilkan kesepakatan bahwa PPNI seluruh provinsi akan melakukan mogok nasional bila pada periode DPR RI saat ini tidak dapat mengesahkan UUK.

Laporan dari seluruh propinsi tentang kesiapan perawat untuk mendukung pengesahan UUK dan menjalankan instruksi PPNI setiap saat diperlukan dalam rangka mengawal percepatan UUK termasuk aksi mogok nasional yang telah direncanakan, katanya.

Achir menjelaskan, bila dilihat dari aspek politis UUK tidak ada kepentingan golongan atau kelompok yang mempengaruhi karena UUK ini adalah untuk kemaslahatan pelayanan kesehatan masyarakat sehingga seharusnya DPR RI tidak memperlama prosesnya, karena akan dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas di Indonesia.

Hal tersebut dikarenakan terjadinya kesenjangan penempatan tenaga kesehatan yang cenderung ingin di kota besar. Sementara, perawat yang ada (60 persen dari tenaga kesehatan) yang bersedia di semua tatanan dan kondisi pedesaan, belum didayagunakan.

Disisi lain, UUK juga akan membentengi dari ancaman dan serbuan perawat asing yang akan bersiap menyerbu Indonesia pada 1 Januari 2010 setelah kita menyepakati MRA (Mutual Recognition Agreement) tingkat ASEAN.

"Potensi keuntungan jasa pelayanan keperawatan yang baik akan diambil oleh perawat negara lain, sementara perawat lokal hanya akan menjadi penonton penyerapan sumber-sumber kekayaan bangsa oleh perawat asing," katanya.

Hal tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang bagi Indonesia, karena jumlah lulusan baru pertahun dari D3 dan S1 keperawatan mencapai 26.000 per tahun, sementara daya serap pemerintah dan swasta sekitar 7.100 per tahun.

"Terjadi surplus yang berpotensi devisa dari remitanace atas 18.900 perawat sebagai tenaga terdidik yang bisa bekerja di luar negeri," demikian Prof Achir Yani S Hamid.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009