Brussel (ANTARA News/AFP) - Sekretaris Jendral NATO Anders Fogh Rasmussen hari Kamis memuji keberhasilan pengamanan pemilihan presiden Afghanistan dan mengatakan, pemilu tersebut dilaksanakan "secara efektif".

"Dilihat dari sudut pandang keamanan, pemilihan umum itu merupakan satu keberhasilan," kata Rasmussen dalam komentarnya di situs NATO yang disiarkan selama kunjungan ke Islandia.

"Pemilihan umum hari ini telah dilaksanakan secara efektif," katanya.

Keberhasilan pemilu itu merupakan bukti dari tekad rakyat Afghanistan untuk membangun demokrasi, kata Rasmussen, yang mengunjungi negara itu belum lama ini.

"Saya ingin mengucapkan selamat kepada rakyat Afghanistan atas keberanian yang telah mereka tunjukkan meski ada tantangan-tantangan. Kami melihat rakyat Afghanistan mengabaikan ancaman-ancaman intimidasi dan kekerasan, untuk melaksanakan hak demokrasi mereka," katanya.

Di Kabul, pemerintah Afghanistan menyatakan puas atas partisipasi rakyat dalam pemilihan presiden dan dewan provinsi pada Kamis itu.

Meski terjadi sejumlah kekerasan, Rasmussen tetap memuji pasukan keamanan Afghanistan dengan mengatakan, "Mereka telah melakukan segala sesuatu agar pemilu ini berlangsung aman."

"Mereka telah memimpin upaya-upaya pengamanan dan mereka harus dipuji," tambah Rasmussen, yang menjadi pemimpin NATO bulan ini.


Serangan tewaskan 26

Sementara itu, pada hari pemilu Kamis serangan-serangan gerilya menewaskan sembilan orang sipil, sembilan polisi dan delapan prajurit, kata beberapa menteri pemerintah.

Delapan prajurit Afghanistan tewas dan 28 lain cedera, dan 135 insiden kekerasan dilaporkan terjadi dan lima serangan bunuh diri digagalkan, kata Menteri Pertahanan Abdul Rahim Wardak pada jumpa pers.

Menteri Dalam Negeri Hanif Atmar mengatakan pada acara yang sama, sembilan warga sipil Afghanistan dan sembilan polisi juga tewas.

Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.

Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.

Pemilu yang akan menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.

Sekitar 300.000 prajurit Afghanistan dan asing mengambil bagian dalam pengamanan pemilu tersebut.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009