Afrika Selatan potong cula badak untuk cegah lonjakan perburuan

Afrika Selatan potong cula badak untuk cegah lonjakan perburuan

Ilustrasi - Badak hitam. ANTARA FOTO/Oliver Le Que/Handout via REUTERS/djo/wsj/pri.

Pilanesburg (ANTARA) - Afrika Selatan memotong cula puluhan badak di tiga cagar populer guna mencegah pemburu bersenjata, yang mengambil kesempatan dari krisis pariwisata karena COVID-19, membunuhi badak-badak demi mendapatkan culanya.

Pemotongan cula badak dilakukan di Taman Nasional Pilanesburg serta cagar hewan Mafikeng dan Botsalano - semuanya di barat laut Johannesburg.

Pemotongan itu membuat cula badak-badak menjadi terlalu kecil sehingga para pemburu gelap tidak mau repot memburu mereka, kata pilot helikopter dan anggota pendiri kelompok nirlaba Rhino 911, Nico Jacobs, kepada Reuters.

Ketika Jacobs menerbangkan helikopter ke Pilanesburg bulan lalu bersama wartawan Reuters, mereka melihat seekor singa betina memakan bangkai badak yang telah diburu beberapa hari sebelumnya.
Para ahli khawatir tidak adanya turis mungkin telah memicu lonjakan perburuan.

Jacobs bersama tim melanjutkan perjalanan ke tempat mereka menenangkan badak betina sebelum memotong culanya dengan gergaji listrik. Salah satu betis badak harus ditahan.

Baca juga: Sukarelawan bantu urusi panti asuhan badak di Afrika selama pandemi

Bekerja sama dengan pihak berwenang, mereka mulai memotongi cula badak sejak tiga tahun lalu. Jacobs mengatakan mereka melihat perburuan liar sudah menurun. Jumlah badak di cagar dan berapa banyak yang telah diburu, dirahasiakan untuk melindungi keberadaan badak.

"Saya sudah melihat begitu banyak badak yang dibantai, disembelih. Apa solusinya? Bagi mereka (pemburu) yang datang ketika ada singa, gajah ... itu terlalu berisiko hanya untuk mengambil bagian kecil cula itu," katanya.

Ketika dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Jumat, ancaman dari manusia untuk kelangsungan hidup spesies lain -dan akhirnya kelangsungan hidup manusia sendiri- adalah kekhawatiran yang semakin meningkat bagi para pelestari lingkungan.

Pada Senin (1/6), para ilmuwan menerbitkan satu laporan penelitian yang menunjukkan bahwa manusia menyebabkan kepunahan massal dalam skala yang tidak terlihat sejak meteor memusnahkan dinosaurus darat 65 juta tahun yang lalu, yang merupakan kepunahan skala besar keenam dalam sejarah Bumi.

 Baca juga: Perburuan badak di Afrika Selatan turun

Badak telah ada selama 30 juta tahun, tetapi perburuan dan hilangnya habitat selama beberapa dekade telah mengurangi jumlah badak di dunia dewasa ini menjadi sekitar 27.000, menurut Yayasan Badak Internasional.
Gelombang perburuan liar telah memusnahkan ribuan badak dalam tiga tahun terakhir.

"Untuk ... memberikan populasi badak kesempatan untuk tumbuh lagi, kita perlu meringankan tekanan pada mereka ... (dengan cara) memotong cula," ujar Pieter Nel, pelaksana tugas kepala konservasi dewan North West Parks.

Tanduk badak dijual seharga 60.000 dolar AS (setara Rp835 juta) per kilogram, lebih mahal dari harga kokain atau emas. Di Asia Timur, cula badak digunakan dalam ramuan obat, meskipun hanya mengandung komponen utama yang sama dengan kuku manusia.

Pemotongan cula badak memang menjadi kontroversial, terutama karena membuat badak jantan rentan dalam perkelahian. Namun, cula bukanlah alat esensial bagi badak untuk bertahan hidup.

Selain itu, seperti halnya kuku, cula badak bisa tumbuh kembali.

Sumber: Reuters

Baca juga: Populasi badak di kepundan Ngorongoro, Tanzania, naik jadi 50 lebih

Baca juga: Badak "Delilah" berulang tahun


 

Populasi Badak Jawa di TN Ujung Kulon terbanyak sejak tahun 1967


 

Penerjemah: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar