Dokter: Lakukan protokol saat naik kereta cegah terpapar COVID-19

Dokter: Lakukan protokol saat naik kereta cegah terpapar COVID-19

Ilustrasi - Penumpang duduk di dalam bus milik Pemprov DKI Jakarta di Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (15/6/2020). Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta menyediakan 50 unit bus sekolah yang akan mengangkut penumpang secara gratis untuk membantu mengurai penumpukan penumpang di stasiun-stasiun transportasi massal kereta api listrik (KRL) jurusan Bogor menuju Jakarta. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.

Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Edward Faisal mengajak masyarakat untuk disiplin melakukan protokol COVID-19 dalam melakukan perjalanan menggunakan kereta rel listrik, lintas rel terpadu (LRT) dan moda raya terpadu (MRT) untuk mencegah terpapar COVID-19

"Kita siapkan alat pelindung diri jangan lupakan masker, hand sanitizer (penyanitasi tangan) juga penting walau disarankan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir," kata Edward dalam gelar wicara virtual yang diadakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencanan (BNPB), Jakarta, Rabu.

Pada kesempatan itu, Edward membagikan tips yang juga berkaitan dengan protokol kesehatan yang harus dijalankan masyarakat saat menggunakan kereta, diantaranya memakai topi untuk melindungi kepala, memakai masker dan menjaga jarak.

Edward mengatakan penting untuk selalu memiliki pikiran positif dan tidak parno.

"Pertama sekali kita harus berpikir positif sehat selalu," ujarnya.

Baca juga: Anies: Semua pengguna kendaraan umum sudah bermasker

Baca juga: Daya tahan angkutan umum tinggal sebulan


Pada saat memasuki stasiun kereta, suhu tubuh calon penumpang akan diperiksa. Jika menunjukkan suhu 37,5 derajat Celcius ke atas maka berada dalam pemantauan, dan akan diperiksa setiap lima menit sekali.

Setelah masuk stasiun, warga dapat memanfaatkan tempat cuci tangan yang telah disediakan.

Masyarakat harus senantiasa menjaga jarak baik di stasiun dan di dalam kereta, minimal satu meter.

"Kalau sudah masuk ke dalam kereta itu sudah ada tandanya di dalam kereta. Di kursi ada tanda silang kita lihat artinya jangan diduduki, dengan keluarga harus dipisah duduknya karena itu jarak aman sebetulnya," ujarnya.

Sesampai di kantor setelah melakukan perjalanan menggunakan kereta, jika ingin melakukan riasan wajah, maka wajib mencuci tangan dan langsung mengaplikasikan riasan wajah. Hindari merias wajah setelah memegang meja atau gagang pintu.

Dalam menggunakan moda transportasi di masa pandemik COVID-19, Pengguna kereta rel listrik Rachma Rini selalu memakai masker, membawa sarung tangan atau tisu.

Di stasiun kereta, sudah ada rambu untuk mengantre, dan petugas yang melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan mengingatkan untuk jaga jarak.

"Sebelum ada wabah pandemik dengan leluasa menaiki kereta tapi ini ada petugas yang ingatkan kapan bisa naik kereta," tuturnya.

Rachma menyadari pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan dalam menjalankan protokol COVID-19. Dengan demikian, diri sendiri bisa menjadi contoh baik bagi keluarga dan orang lain.

"Dengan orang terdekat, orang kantor, teman, saya melakukan jaga jarak jangan berdesak-desakan jadi sekarang kita punya tantangan bagaimana kita mengikuti aturan yang disampaikan petugas stasiun," tuturnya.*

Baca juga: Lawan COVID-19, El Salvador tangguhkan transportasi umum

Baca juga: Anies: Transportasi umum maksimal 50 persen penumpang per angkutan

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

70 napi di Lapas Kendari terpapar COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar