Baghdad (ANTARA News/AFP) - Lima orang, termasuk dua polisi, tewas dan 13 lain terluka dalam dua serangan bom di Irak, Kamis, kata sejumlah polisi.

Dalam serangan paling mematikan, tiga warga sipil tewas ketika bom yang dipasang di sebuah tempat potong rambut meledak di kota Yusfiyah, sekitar 25 kilometer sebelah selatan Baghdad.

Serangan itu terjadi sekitar pukul 17.00 waktu setempat (pukul 21.00 WIB) dan juga mencederai 10 orang, kata seorang polisi yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Yusfiyah adalah kota dengan mayoritas Sunni yang terletak di kawasan berpenduduk campuran yang dikenal sebagai Segitiga Kematian karena seringnya terjadi serangan-serangan gerilya selama masa terburuk pemberontakan setelah invasi pimpinan AS pada 2003.

Di Saadiyeh sebelah utara Baghdad, dua polisi yang mencakup seorang letnan kolonel tewas ketika sebuah bom pinggir jalan menyerang patroli mereka Kamis pagi, kata seorang polisi.

Ledakan itu juga mencederai tiga polisi di kota itu, 140 kilometer sebelah utara Baghdad di provinsi Diyala.

Kematian akibat kekerasan di Irak turun hingga lebih dari separuh pada September, dibanding dengan bulan sebelumnya, menurut angka resmi pekan lalu, dimana 203 orang tewas di berbagai penjuru negara tersebut.

Korban-korban terakhir itu berjatuhan setelah jumlah kematian akibat kekerasan di Irak mencapai angka tertinggi dalam 13 bulan pada Agustus, yang menambah kekawatiran mengenai stabilitas di negara itu setelah pemerintah mengakui keamanan memburuk.

Rangkaian serangan dan pemboman sejak pasukan AS ditarik dari kota-kota di Irak pada akhir Juni telah menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pasukan keamanan Irak untuk melindungi penduduk dari serangan-serangan gerilya seperti kelompok militan Sunni Al-Qaeda.

Pemboman di Baghdad dan di dekat kota bergolak Mosul tampaknya bertujuan mengobarkan lagi kekerasan sektarian mematikan antara orang-orang Sunni dan Syiah yang membawa Irak ke ambang perang saudara.

Meski ada penurunan tingkat kekerasan secara keseluruhan, serangan-serangan terhadap pasukan keamanan dan warga sipil hingga kini masih terjadi di Kirkuk, Mosul dan Baghdad.

Banyak orang Irak juga khawatir serangan-serangan terhadap orang Syiah akan menyulut lagi kekerasan sektarian mematikan antara Sunni dan Syiah yang baru mereda dalam 18 bulan ini. Puluhan ribu orang tewas dalam kekerasan sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.

Jumlah korban tewas akibat kekerasan di Irak turun hingga sepertiga menjadi 275 pada Juli, bulan pertama pasukan Irak bertanggung jawab atas keamanan di daerah-daerah perkotaan sejak invasi pimpinan AS pada 2003.

Kekerasan menurun secara berarti di Irak dalam beberapa bulan ini, namun serangan-serangan meningkat menjelang penarikan militer AS, dan 437 orang Irak tewas pada Juni -- jumlah kematian tertinggi dalam kurun waktu 11 bulan.

Perdana Menteri Nuri al-Maliki memperingatkan pada Juni bahwa gerilyawan dan milisi mungkin meningkatkan serangan mereka dalam upaya merongrong kepercayaan masyarakat pada pasukan keamanan Irak.

Sejumlah serangan bom besar dilancarkan pada bulan itu, dan yang paling mematikan adalah serangan bom truk pada 20 Juni di dekat kota wilayah utara, Kirkuk, yang menewaskan 72 orang dan mencederai lebih dari 200 lain dalam serangan paling mematikan dalam 16 bulan.

Serangan bom pada 24 Juni di sebuah pasar di distrik Syiah Kota Sadr di Baghdad timurlaut juga merupakan salah satu yang paling mematikan pada tahun ini, yang menewaskan sedikitnya 62 orang dan mencederai sekitar 150.

Namun, Maliki dan para pejabat tinggi pemerintah menekankan bahwa 750.000 prajurit dan polisi Irak bisa membela negara dari serangan-serangan yang dituduhkan pada gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaeda dan kekuatan yang setia pada almarhum presiden terguling Saddam Hussein.

Hanya sejumlah kecil pasukan AS yang menjadi pelatih dan penasihat akan tetap berada di daerah-daerah perkotaan, dan sebagian besar pasukan Amerika di Irak, yang menurut Pentagon berjumlah 131.000, ditempatkan di penjuru lain.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009