Pontianak (ANTARA News) - Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) diharapkan menyelesaikan evaluasi Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PLTN) Indonesia tahun 2010.

"Tanggal lima November mendatang IAEA akan melakukan evaluasi pengembangan PLTN di Indonesia," kata Kepala Bidang Manajemen Persiapan PLTN di Pusat Pengembangan Energi Nuklir Bambang Suprawoto di Pontianak, Kamis.

Pada dasarnya Indonesia sudah siap dilakukan evaluasi oleh IAEA untuk pengembangan PLTN, katanya, saat Sosialisasi PLTN dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

"Apalagi, kami melakukan pengembangan PLTN secara terbuka, sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.

Bambang berharap, PLTN menjadi solusi dalam mengatasi krisis listrik di Indonesia karena semakin tingginya harga minyak dunia.

"Selagi nuklir digunakan untuk kepentingan energi bukan untuk kepentingan lain, tidak ada alasan masyarakat untuk menolak. Apalagi, menurut penelitian, PLTN paling ramah dibanding pembangkit listrik menggunakan diesel," kata Bambang.

Sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, di Jakarta beberapa waktu lalu mengaku tidak berhasil mempromosikan PLTN sehingga bisa dibangun tepat waktu di Indonesia.

"Justru `kepedean` (keyakinan diri -red) yang sangat besar itu ciut karena hal yang tidak diduga," katanya.

PLTN seharusnya sudah mulai ditenderkan sejak 2008 akhir dan mulai dibangun di Jepara pada 2010. PLTN dijadwalkan beroperasi pada 2016.

Ia menceritakan pengalamannya ketika akan melakukan sosialisasi di Jepara, Jawa Tengah, tentang pentingnya PLTN, di mana dia sudah "dibisiki" staf intelijen bahwa rombongannya bakal dihadang para pengunjuk rasa.

Sebagai mantan Rektor ITB yang berpengalaman menghadapi demonstrasi, ia merasa sangat yakin para pengunjuk rasa bakal bisa diatasinya, apalagi para pejabat dari intelijen hingga pejabat dari Datasemen Khusus (Densus) 88 ikut mendampinginya.

"Begitu saya sampai di sana hati saya ciut seperti `balon ketojos`. Ciutnya hati bukan karena demo yang besar, tapi karena dideretan pendemo itu ada seorang bapak yang saya hormati, didorong di kursi roda, dialah mantan Presiden Gus Dur (Abdurahman Wahid -red)," katanya.

Menristek mengaku langsung minta kepada yang berwenang agar mengusahakan pesawat yang ditumpangi Gus Dur usai demo ditunda keberangkatannya agar bisa bertemu Gus Dur di bandara.

"Saya akhirnya bisa `ngobrol` dengan beliau dan mengeluh mengapa beliau tega amat memimpin demo tersebut," katanya.

Ternyata Gus Dur, kata Kusmayanto, hanya menjawab agar ia bersabar saja menunggu sampai Pemilu selesai. "Usai pemilu Anda bisa jalan terus, begitu kata Gus Dur. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009